
Jakarta, (Delik Asia) | Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII) mengecam keras laporan penggunaan senjata berteknologi tinggi oleh militer Israel yang disebut memiliki daya rusak ekstrem terhadap tubuh manusia di Jalur Gaza. Organisasi pelajar tersebut juga mempertanyakan efektivitas lembaga-lembaga perdamaian internasional dalam merespons dugaan pelanggaran kemanusiaan yang terus berlangsung.

Ketua Umum PB PII, Amsal Alfian, menilai situasi di Gaza tidak lagi dapat dipandang sebagai konflik bersenjata biasa, melainkan telah mengarah pada kejahatan kemanusiaan yang sistematis.
“Kami mengutuk keras penggunaan senjata yang dirancang untuk memusnahkan tubuh manusia secara total. Ini bukan hanya soal agresi militer, tetapi Gaza seolah dijadikan laboratorium eksperimen senjata-senjata mematikan. Dunia tidak boleh diam melihat dehumanisasi ini,” ujar Amsal di Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Menurutnya, dampak paling besar dari penggunaan persenjataan tersebut dirasakan warga sipil, termasuk anak-anak dan pelajar. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut menunjukkan konflik telah melampaui batas kemanusiaan dan mengabaikan prinsip perlindungan warga sipil sebagaimana diatur dalam hukum humaniter internasional.

“Sebagai organisasi pelajar, kami tidak bisa bersikap netral terhadap penderitaan pelajar di Palestina. Solidaritas ini bukan soal politik semata, tetapi keberpihakan pada nilai kemanusiaan,” tegasnya.
PB PII juga mendesak dilakukannya investigasi internasional yang independen dan transparan guna memastikan jenis persenjataan yang digunakan serta dampaknya terhadap korban sipil. Menurut Amsal, akuntabilitas menjadi prasyarat penting agar tragedi serupa tidak terus berulang.
Senada dengan itu, Ketua VII Bidang Hubungan Luar Negeri (HLN) PB PII, Hery Yuanda, mempertanyakan peran lembaga-lembaga perdamaian dunia, termasuk Board of Peace, yang dinilai belum menunjukkan langkah konkret.
“Kami secara terbuka mempertanyakan, di mana peran Board of Peace? Lembaga ini seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga stabilitas dan etika perang global. Jika hanya diam ketika dugaan pelanggaran kemanusiaan terjadi secara masif, legitimasi mereka patut dipertanyakan,” ujar Hery.
PB PII melalui pernyataan resminya menyampaikan sejumlah sikap organisasi, antara lain mengutuk segala bentuk kekerasan terhadap warga sipil, menolak penggunaan senjata dengan dampak destruktif ekstrem terhadap tubuh manusia, serta mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan lembaga internasional lainnya untuk bertindak adil dan konsisten dalam menegakkan hukum humaniter internasional.
Organisasi tersebut juga menginstruksikan seluruh kader di berbagai daerah untuk terus menggalang solidaritas kemanusiaan bagi rakyat Palestina.
“Solidaritas publik memiliki kekuatan moral yang besar. Kami mengajak masyarakat Indonesia untuk terus menyuarakan kepedulian dan membantu rakyat Palestina agar mereka tidak merasa sendirian menghadapi situasi ini,” tutup Hery.(*/Red)

Tidak ada komentar