x

Jejak Pengabdian Darah Komando, Kapten Dr. Guntur Ukir Dua Putra Menjadi Ksatria Kopassus dan Kopasgat

waktu baca 4 menit
Kamis, 14 Mei 2026 21:37 0 21 Redaksi

Jakarta, (Delik Asia) | Di balik tegaknya benteng pertahanan bangsa, terdapat kisah sunyi yang tidak tercatat dalam derap upacara maupun gemuruh senjata. Kisah itu lahir dari seorang prajurit sederhana asal Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Kapten Inf Dr. M. Guntur, S.H., M.H., seorang ayah yang menjadikan disiplin sebagai bahasa cinta dan pengabdian sebagai warisan kehidupan.

Di tangan seorang prajurit yang ditempa oleh kerasnya medan tugas dan panjangnya perjalanan pengabdian, lahirlah dua putra yang kini berdiri gagah di barisan pasukan elite Tentara Nasional Indonesia. Lettu Pas M. Iqbal Fahriyansyah, S.Tr.Han. resmi mengemban amanah di Batalyon Para Komando 466 Kopasgat, sementara Letda Inf M. Akbar, S.Tr.Han. mengabdikan diri di Grup 1 Kopassus. Dua nama yang kini menjelma menjadi kebanggaan tanah Bima dan simbol bahwa keteguhan, pendidikan karakter, serta cinta yang dibalut kedisiplinan mampu melahirkan ksatria penjaga negeri.

Bagi Kapten Guntur, perjalanan itu bukanlah kisah yang dibangun dengan kemudahan. Ia membesarkan anak-anaknya di tengah keterbatasan, dengan tempaan mental yang keras dan prinsip hidup yang tak pernah mengenal kompromi terhadap kehormatan. Namun di balik ketegasan itu, tersimpan cinta seorang ayah yang ingin memastikan anak-anaknya tumbuh menjadi manusia yang tidak mudah runtuh diterpa zaman.

“Dulu ayah pergi demi tugas negara, kini ayah melepaskan kalian untuk menjaga negara itu. Sedih raga berjarak, bangga jiwa berpadu,” tutur Kapten Guntur dengan suara yang sarat getaran batin.

Kalimat itu bukan sekadar ungkapan haru, melainkan refleksi panjang perjalanan seorang prajurit yang memahami bahwa pengabdian selalu menuntut pengorbanan. Ia sadar, dunia komando bukan ruang bagi jiwa yang rapuh. Karena itulah, setiap didikan keras yang ia berikan sesungguhnya adalah bentuk kasih sayang paling mendalam agar kedua putranya mampu bertahan dalam kerasnya kehidupan militer.

“Setiap bentakan ayah adalah doa yang dibungkus disiplin. Ayah tahu, dunia komando tidak mengenal belas kasihan. Maka ayah menempa kalian agar dunia tidak mampu mematahkan kalian,” ungkapnya penuh makna.

Kini, segala pengorbanan itu menjelma menjadi kebanggaan yang tak ternilai. Dua elang muda dari tanah Bima telah mengikrarkan sumpah untuk menjaga kehormatan, menjadikan integritas sebagai napas pengabdian, dan berdiri sebagai benteng Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Prestasi yang diraih Iqbal dan Akbar bukan sekadar keberhasilan pribadi, melainkan juga pesan moral bahwa putra-putra daerah mampu menembus kerasnya pendidikan militer dan berdiri di jajaran satuan elite terbaik bangsa. Dari tanah NTB, lahir generasi prajurit yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.

“Seorang Kapten tidak hanya melatih prajurit, tetapi juga melatih darah dagingnya sendiri agar siap mengorbankan jiwa demi ibu pertiwi. Kebanggaan tertinggi seorang ayah adalah melihat anak-anaknya meneruskan jejak pengabdian menjadi tameng negara yang tidak tergoyahkan,” ujar Kapten Guntur.

Bagi dirinya, pangkat bukanlah tujuan akhir. Kehormatanlah yang menjadi mahkota sejati seorang prajurit.

“Lebih baik pulang nama daripada gagal dalam tugas. Jadilah prajurit yang lebih hebat dari ayahmu ini. Jadilah perwira berintegritas, karena pangkat mungkin bisa dicari, tetapi kehormatan komando adalah harga mati,” pesannya dengan penuh ketegasan.

Di antara jarak yang kelak memisahkan medan tugas dan kampung halaman, Kapten Guntur percaya bahwa darah perjuangan yang mengalir dalam diri kedua putranya akan selalu menjaga mereka tetap teguh. Sebab bagi seorang prajurit, rumah bukan hanya tempat pulang, melainkan nilai-nilai kehormatan yang terus hidup di dalam jiwa.

“Iqbal di Kopasgat, Akbar di Kopassus. Dua elang muda dari NTB. Jadilah perwira yang dicintai bawahan, disegani lawan, dan tidak pernah meninggalkan sujud kepada Tuhan,” tuturnya.

Di akhir pesannya, Kapten Guntur menitipkan harapan yang begitu dalam—harapan seorang ayah yang sekaligus seorang prajurit.

“Di akademi ini kalian dididik untuk tidak mengenal rasa takut, kecuali takut kepada Tuhan. Teruskan perjuangan itu, calon jenderal dari Bima. Ayah akan selalu berdiri di belakang kalian, bangga sebagai orang tua, dan hormat sebagai sesama prajurit.”

Kisah Kapten Guntur dan kedua putranya menjadi pengingat bahwa di balik kokohnya pertahanan bangsa, ada cinta yang diam-diam berkorban, ada doa yang tersembunyi di balik ketegasan, dan ada jiwa-jiwa besar yang mendidik anak-anaknya bukan sekadar untuk sukses, melainkan untuk menjaga kehormatan negeri hingga akhir hayat.(*/Didin Bk/Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x