
Argentina, (Delik Asia) | Maret 2016 menjadi catatan penting dalam sejarah ekspedisi militer–kemanusiaan Indonesia. Di lereng Gunung Aconcagua, Argentina, Tim Ekspedisi Indonesia Raya dihadapkan pada keputusan paling krusial: melanjutkan ambisi menancapkan Merah Putih di atap tertinggi Benua Amerika atau mengutamakan keselamatan nyawa.

Di ketinggian 6.650 meter di atas permukaan laut, puncak Aconcagua tinggal berjarak sekitar 300 meter. Di sana berdiri Sabar Gorky, pendaki tunadaksa legendaris dengan satu kaki, didampingi prajurit-prajurit elite Denjaka dan Taifib Korps Marinir TNI AL di bawah komando Rivelson Saragih.
Namun alam berkata lain. Gumpalan awan cumulonimbus di cakrawala Pegunungan Andes menjadi peringatan akan badai besar yang mengancam keselamatan seluruh tim.


Secara taktis, prajurit Denjaka dan Taifib memiliki kemampuan fisik untuk mencapai puncak tanpa Sabar Gorky dan kembali sebelum badai tiba. Secara administratif, keberhasilan puncak juga akan memvalidasi dukungan logistik dan pembiayaan besar dari sponsor utama, Artha Graha.
Namun prinsip dasar Korps Marinir menutup semua opsi itu: tidak ada rekan yang ditinggalkan.
Manajer pendakian Dar Edi Yoga segera berkoordinasi melalui telepon satelit dengan Komandan Korps Marinir saat itu, Buyung Lalana, serta Tomy Winata sebagai pendukung utama ekspedisi. Keputusan berat pun diambil.
“Pulang dengan selamat adalah yang utama. Gunung Aconcagua tidak akan ke mana-mana,” tegas Dar Edi Yoga kepada tim di ketinggian.

Mendengar perintah tersebut, Letkol (Mar) Rivelson Saragih bersama seluruh personel memilih turun. Mimpi berdiri di titik tertinggi Amerika ditunda demi menjaga keselamatan Sabar Gorky dan keutuhan tim.
Bagi mereka, prestasi sejati bukanlah bendera yang tertancap di puncak, melainkan kembalinya seluruh anggota ekspedisi ke tanah air tanpa kehilangan satu nyawa pun.
Kisah ini menggugah solidaritas lintas matra. Atase Pertahanan RI untuk Brasil dan Argentina saat itu, Budhi Achmadi, bahkan terbang langsung dari Brasil ke Argentina untuk menyambut kepulangan tim. Kehadiran perwira tinggi TNI AU tersebut menjadi simbol bahwa semangat Merah Putih melampaui batas matra dan jabatan.
Ekspedisi Aconcagua 2016 membuktikan bahwa di gunung setinggi apa pun, kemenangan terbesar bukanlah menaklukkan medan, melainkan menaklukkan ego. Nyawa, kehormatan, dan persaudaraan tetap menjadi nilai tertinggi—melampaui puncak, trofi, dan prestise apa pun.(*/SAFAR)

Tidak ada komentar