x

Hadapi Krisis Global, Indonesia Dorong Uni Eropa Pererat Kerja Sama dengan ASEAN

waktu baca 3 menit
Sabtu, 2 Mei 2026 10:22 0 9 Redaksi

Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, (Delik Asia) | Kemitraan antara ASEAN dan Uni Eropa kian meneguhkan signifikansi strategisnya di tengah lanskap global yang sarat ketidakpastian. Dalam dinamika dunia yang terus bergejolak—baik secara geopolitik maupun geoekonomi—kolaborasi lintas kawasan menjadi fondasi penting dalam menjaga keseimbangan, stabilitas, dan arah pembangunan global yang berkelanjutan.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Arrmanatha Christiawan Nasir, dalam Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN–Uni Eropa ke-25 yang diselenggarakan di Bandar Seri Begawan pada 28 April 2026. Forum strategis ini dipimpin bersama oleh Menteri Luar Negeri II Brunei Darussalam dan High Representative Uni Eropa, serta menjadi ruang deliberatif untuk memperkuat fondasi kemitraan yang setara dan saling menguntungkan.

Pertemuan tersebut tidak hanya menandai kesinambungan dialog antar kawasan, tetapi juga menjadi momentum reflektif menjelang 50 tahun hubungan ASEAN–Uni Eropa pada 2027. Dalam kerangka ini, kedua pihak menegaskan pentingnya menjadikan kemitraan sebagai instrumen yang menghadirkan manfaat nyata, baik bagi masyarakat luas maupun pelaku usaha, sekaligus memberikan kepastian dan kepercayaan bagi pasar global.

Delegasi ASEAN dan Uni Eropa menghadiri Pertemuan Tingkat Menteri ke-25 di Bandar Seri Begawan, 28 April 2026, membahas penguatan kemitraan strategis yang inklusif dan berkelanjutan.

“Kemitraan ASEAN dan Uni Eropa tidak boleh berhenti pada tataran simbolik. Ia harus mampu menghadirkan dampak konkret yang dirasakan langsung oleh masyarakat dan dunia usaha, serta menjadi pilar kepercayaan bagi ekosistem ekonomi global. Oleh karena itu, dorongan terhadap terwujudnya Comprehensive Economic Partnership Agreement menjadi suatu keniscayaan,” tegas Wamenlu RI.

Lebih lanjut, Indonesia mendorong Uni Eropa untuk memainkan peran konstruktif dalam merespons kompleksitas tantangan global saat ini. Sinergi antara ASEAN, Uni Eropa, dan negara-negara Global South dipandang krusial dalam menjaga sistem internasional yang terbuka, adil, dan stabil—sebuah prasyarat utama bagi terciptanya pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.

Menutup pernyataannya, Wamenlu RI menyoroti urgensi reformasi sistem multilateral agar lebih adaptif terhadap realitas kontemporer. Ia menekankan pentingnya membangun tata kelola global yang inklusif, efektif, dan responsif, melalui kolaborasi erat antara ASEAN dan Uni Eropa sebagai dua entitas regional yang memiliki bobot strategis dalam percaturan dunia.

Suasana pertemuan Menteri ASEAN–Uni Eropa ke-25 di Bandar Seri Begawan, yang dipimpin bersama oleh Menteri Luar Negeri II Brunei Darussalam dan High Representative Uni Eropa, dalam upaya memperdalam kolaborasi antar kawasan.

Di sela-sela pertemuan, Wamenlu RI juga melaksanakan sejumlah pertemuan kehormatan dan bilateral, termasuk dengan Menteri Luar Negeri Brunei Darussalam, High Representative Uni Eropa, serta Wakil Menteri Luar Negeri dari Austria, Polandia, Portugal, dan Jerman. Interaksi ini semakin memperkaya dimensi diplomasi Indonesia dalam memperluas jejaring kerja sama yang substantif.

Forum tersebut turut dihadiri oleh para Menteri dan Wakil Menteri Luar Negeri dari negara-negara ASEAN dan Uni Eropa, yang secara kolektif menegaskan kembali komitmen terhadap multilateralisme dan penghormatan terhadap hukum internasional. Berbagai sektor prioritas seperti energi, ketahanan pangan, konektivitas, transformasi digital, maritim, dan perdagangan menjadi fokus utama dalam penguatan kerja sama ke depan.

Pertemuan ditutup dengan adopsi Pernyataan Bersama Menteri Luar Negeri ASEAN–Uni Eropa yang mencerminkan keselarasan visi dan komitmen kedua kawasan. Sejak terjalin pada 1977, kemitraan ASEAN–Uni Eropa terus berkembang sebagai salah satu pilar penting dalam arsitektur global. Dengan potensi strategis yang kian besar, kolaborasi ini diharapkan mampu berkontribusi dalam membentuk tatanan dunia yang lebih stabil, inklusif, dan berkelanjutan di tengah perubahan zaman yang terus berlangsung.

Editor: Safar

Sumber: Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x