x

KRI Sriwijaya EKS-GARIBALDI: Menambal Kapal Tua Dengan Emas

waktu baca 11 menit
Minggu, 11 Okt 2026 18:06 0 83 Redaksi

Dari biaya empat turbin, perangkap peremajaan, hingga risiko pertahanan yang berpusat
pada kapal induk.

Oleh: Laksda TNI (Purn.) Dr. Soleman B. Ponto, ST., SH., MH.

Pembicaraan mengenai KRI Sriwijaya eks-Garibaldi perlu dimulai dari ruang mesin. Berapa daya yang tersedia, berapa bahan bakar yang diperlukan, dan berapa biaya untuk menyesuaikan kapal tersebut dengan kebutuhan Indonesia?

Setelah itu, pembahasannya harus sampai pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah
kapal ini memperkuat kemampuan yang kita perlukan, atau justru membuat anggaran dan cara berpikir pertahanan menyesuaikan diri dengan kapal yang telanjur dimiliki?

Pertanyaan tersebut penting apabila Garibaldi akhirnya digunakan terutama untuk bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana—Humanitarian Assistance and Disaster Relief atau HADR—serta operasi helikopter.

KSAL telah menjelaskan penggunaan Garibaldi sebagai pangkalan helikopter untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan. Sasaran tugas itu seharusnya menjadi dasar penilaian teknis dan ekonominya.

Empat turbin dan biaya bahan bakarnya

Garibaldi menggunakan empat turbin gas LM2500 dalam konfigurasi Combined Gas and Gas atau COGAG. Dokumen Italia mencatat daya propulsi keseluruhan sekitar 60.400 kW atau 60,4 MW, sementara dokumen pemeliharaan Angkatan Laut Italia mengonfirmasi penggunaan turbin LM2500.

Tenaga turbin diteruskan melalui sistem transmisi menuju dua poros baling-baling. Empat mesin menyediakan kemampuan daya besar, tetapi tidak berarti semuanya selalu bekerja pada daya maksimum.

Istilah “turbin gas” menunjuk jenis mesin, bukan keharusan menggunakan bahan bakar
berbentuk gas. Perhitungan berikut menggunakan bahan bakar cair dengan asumsi harga solar Rp15.000 per liter.

Rumus dasarnya:
Konsumsi BBM = daya yang digunakan × konsumsi spesifik ÷ massa jenis BBM.

GE mencantumkan konsumsi spesifik LM2500 sekitar 0,227 kilogram per kWh pada kondisi acuan ISO. Ini data pabrikan pada kondisi tertentu, bukan hasil pengukuran mesin Garibaldi saat ini.

Dengan daya 60.400 kW dan asumsi massa jenis bahan bakar 0,84 kilogram per liter:
60.400 × 0,227 ÷ 0,84 ≈ 16.322 liter per jam.

Pada harga solar Rp15.000 per liter: 16.322 × Rp15.000 ≈ Rp245 juta per jam.

Pada penggunaan separuh daya total, apabila konsumsi spesifik sementara dianggap sama, hasilnya sekitar 8.161 liter atau Rp122,4 juta per jam.

Angka tersebut harus dibaca secara tepat. Konsumsi spesifik berubah mengikuti beban, kondisi mesin, dan jumlah turbin yang dioperasikan. Memakai angka efisiensi acuan pada beban rendah dapat meremehkan konsumsi sebenarnya. Perhitungan ini juga belum memasukkan generator listrik, bahan bakar helikopter, dan kebutuhan operasi lainnya.

Jadi, Rp122,4 juta atau Rp245 juta per jam bukan biaya tetap setiap kali kapal berlayar.

Keduanya merupakan ilustrasi berdasarkan asumsi daya dan konsumsi spesifik.

Untuk memperlihatkan skalanya, 168 jam operasi terus-menerus pada skenario separuh daya tersebut menghasilkan biaya BBM propulsi sekitar Rp20,6 miliar. Ini bukan perkiraan untuk setiap penugasan seminggu, karena kapal dapat menggunakan kecepatan berbeda, berhenti, atau berlabuh.

Pertanyaan teknisnya adalah: seberapa sering daya besar tersebut benar-benar dibutuhkan untuk HADR dan operasi helikopter?

Kecepatan tiba di daerah bencana memang bernilai. Namun, manfaatnya harus ditimbang
terhadap biaya, jangkauan, muatan bantuan, dan lamanya kapal dapat bertahan menjalankan
tugas.

Mengganti mesin tidak sama dengan memperbarui seluruh kapal

Apabila instalasi penggeraknya dinilai kurang sesuai, muncul gagasan mengganti mesin.

Ada dua pekerjaan berbeda: mengganti turbin dengan turbin baru atau mengubah sistem propulsi menjadi diesel.

Sebagai pembanding terbuka, pemerintah Amerika Serikat pada Maret 2023 mengumumkan kontrak US$16,748 juta untuk satu LM2500+G4 beserta sistem bantu, bagi fasilitas pengujian darat DDG(X). Varian dan lingkup pekerjaannya berbeda dari penggantian mesin
Garibaldi.

Jika nilai pembanding itu dikalikan empat:

4 × US$16,748 juta ≈ US$66,99 juta.

Dengan kurs ilustrasi Rp16.000 per dolar, nilainya sekitar Rp1,07 triliun.

Angka tersebut belum merupakan anggaran penggantian mesin Garibaldi. Pembongkaran, pemasangan, penyesuaian instalasi, integrasi kontrol, pengujian, dan pekerjaan terkait masih harus dihitung.

Sebagai uji sensitivitas semata, tambahan pekerjaan sebesar 30–100 persen terhadap nilai empat paket pembanding menghasilkan total sekitar Rp1,39–2,14 triliun. Persentase ini merupakan asumsi ilustratif, bukan penawaran galangan, dan rentangnya bukan batas atas
biaya proyek.

Mengganti turbin tidak otomatis memperbarui gearbox, poros, fondasi, kabel, perpipaan, maupun struktur kapal.

Jika dipilih konversi diesel, dimensinya, beratnya, putarannya, torsinya, dan kebutuhannya terhadap sistem pendukung harus dihitung ulang. Kecocokan transmisi, pendinginan, pembuangan gas, distribusi berat, serta keselarasan poros menjadi bagian dari pekerjaan.

Menurunkan daya membawa konsekuensi terhadap kecepatan. Mempertahankan daya besar membawa tuntutan ruang dan berat instalasi yang berbeda.

Tanpa kajian teknik dan penawaran pekerjaan, biaya konversi diesel belum dapat disebut secara pasti. Harga membeli mesin tidak mewakili harga mengubah seluruh sistem propulsi.

Menambal lubang dengan emas

Di sinilah persoalan kapal tua menjadi lebih serius.
Memperbarui kapal tua dapat menyerupai menambal lubang dengan emas. Bahan penambalnya mahal, sementara kondisi bagian di sekeliling lubang belum tentu sepenuhnya diketahui.

Persoalannya bukan hanya pekerjaan yang sudah direncanakan, melainkan pekerjaan yang baru terlihat setelah pembongkaran dilakukan.

Pemeriksaan awal dapat mengurangi ketidakpastian, tetapi tidak selalu mengungkap seluruh kondisi bagian yang tertutup atau sulit dijangkau. Ketika mesin dilepas dan instalasi dibuka, dapat muncul kebutuhan tambahan yang belum masuk perhitungan.

Semula hanya mengganti mesin. Setelah dibongkar, mungkin fondasinya membutuhkan perbaikan. Bagian transmisi perlu ditangani. Instalasi lain harus diganti. Pekerjaan bertambah dan jadwal bergeser.

Itu adalah gambaran risiko, bukan pernyataan bahwa kerusakan tersebut telah ditemukan pada Garibaldi. Justru karena kondisi lengkapnya belum dapat diasumsikan, risiko itu harus diperhitungkan sebelum negara berkomitmen mengeluarkan uang besar.

Negara perlu mengetahui biaya pekerjaan yang terlihat sekaligus siapa yang menanggung biaya pekerjaan tambahan yang baru ditemukan.

Tanpa batas tanggung jawab yang jelas, angka awal mudah berubah menjadi sekadar pintu
masuk proyek.

Perangkap “sudah terlanjur”

Setelah kapal dibongkar dan uang besar dikeluarkan, proyek dapat memasuki point of no return secara anggaran dan kelembagaan.

Ini bukan berarti penghentian mustahil secara teknis. Maksudnya, keputusan berhenti menjadi semakin berat karena kapal berada dalam keadaan belum siap, uang sudah terserap, dan untuk mengembalikannya ke kondisi aman pun mungkin diperlukan biaya tambahan.

Lalu muncul alasan yang terus berulang:

“Sudah terlanjur dibongkar.”

“Mesinnya sudah dibeli.”

“Sayang uang yang sudah dikeluarkan.”

“Tambahkan lagi supaya selesai.”

Pengeluaran masa lalu akhirnya dipakai untuk membenarkan pengeluaran berikutnya. Padahal, uang yang telanjur habis tidak membuktikan bahwa tambahan berikutnya layak dikeluarkan.

Dalam keadaan terburuk, sasaran proyek dapat bergeser. Semula meningkatkan kemampuan operasi, kemudian sekadar memulihkan kelayakan dasar. Anggaran terus ditambahkan agar kapal tetap aman mengapung dan dapat dipindahkan, sementara kemampuan yang dijanjikan belum tercapai.

Mengapung bukan ukuran keberhasilan modernisasi. Kapal yang dapat berlayar pun belum tentu memenuhi seluruh kemampuan yang menjadi alasan perbaikannya.

Besarnya uang yang ditanamkan tidak otomatis menjamin keberhasilan. Hasil baru dapat dinyatakan tercapai setelah kemampuan yang disepakati dibuktikan melalui pengujian.

Tanpa lingkup pekerjaan, batas biaya, jadwal, kriteria penerimaan, dan ketentuan penghentian yang tegas, proyek “membuat Garibaldi muda kembali” berisiko tidak
mempunyai ujung yang dapat dipegang.

Kapan selesai? Berapa biaya akhirnya? Apa kemampuan yang benar-benar diperoleh?

Ketiga pertanyaan itu harus dijawab sebelum pembongkaran besar, bukan terus ditunda sampai anggaran berikutnya.

Kapal baru memiliki titik akhir yang dapat ditetapkan

Pembangunan kapal baru juga dapat mengalami keterlambatan, kenaikan biaya, dan kesalahan pekerjaan. Tidak ada dasar untuk menjanjikan bahwa seluruh proyek kapal baru pasti selesai tanpa masalah.

Namun, pembangunan baru memungkinkan titik akhirnya ditentukan lebih jelas sejak awal:
desain disepakati, material ditetapkan, mesin dipilih, kemampuan dirumuskan, tahapan pembangunan dijadwalkan, dan persyaratan penerimaan dituangkan dalam kontrak.

Negara dapat menetapkan kapal seperti apa yang harus diserahkan, kapan penyerahannya, bagaimana kemampuannya diuji, serta siapa yang bertanggung jawab apabila hasilnya tidak sesuai.

Pada peremajaan besar kapal tua, lingkup pekerjaan lebih rentan berubah mengikuti temuan pembongkaran. Perbedaan tingkat ketidakpastian ini harus masuk dalam perbandingan biaya.

Dari 163 meter menjadi 180 meter

Indonesia mempunyai dasar untuk mengembangkan alternatif tersebut.

PT PAL mengonfirmasi sedang mengerjakan LPD sepanjang 163 meter untuk UEA.
Pengumuman kontrak IDEX 2023 mencatat pengadaan kapal multimisi kepada PT PAL
senilai AED1,5 miliar, sekitar US$408 juta.

Usulan saya adalah mengembangkan desain itu menjadi kapal baru sepanjang sekitar 180 meter:

163 meter + 17 meter = 180 meter.

Panjangnya mendekati Garibaldi yang sekitar 180,2 meter.

Tambahan 17 meter adalah usulan pengembangan desain. Kesamaan panjang tidak otomatis menghasilkan kesamaan kemampuan. Karena itu, kebutuhan fasilitas dan tata ruang harus dihitung sejak awal.

Sasaran perbandingannya adalah kapal baru untuk HADR dan operasi helikopter, dengan kemampuan misi yang sebanding dengan Garibaldi setelah penggantian mesin dan penyesuaian fasilitas.

Kita tidak sedang menuntut LPD menyamai seluruh kemampuan tempur Garibaldi dalam rancangan asalnya.

Yang ditentukan adalah jumlah dan jenis helikopter, titik pendaratan, kapasitas hanggar, fasilitas pemeliharaan, persediaan bahan bakar penerbangan, rumah sakit, muatan bantuan, serta ketahanan operasi.

Kecukupan pengembangan panjang 17 meter harus dibuktikan melalui desain, termasuk stabilitas, kekuatan struktur, dan keselamatan penerbangan.

Dengan kapal baru, kebutuhan tersebut dapat disusun sejak awal. Mesin dipilih sesuai pola operasi yang memang akan dijalankan.

Membandingkan anggaran secara utuh

Pada kurs ilustrasi Rp16.000 per dolar, kontrak historis US$408 juta setara sekitar Rp6,53 triliun. Ini pembanding awal, bukan harga penawaran kapal 180 meter hari ini.
Sebagai simulasi, apabila pengembangan desain dan perubahan perlengkapan menambah biaya 25–60 persen terhadap pembanding tersebut:

US$408 juta × 1,25–1,60 = US$510–652,8 juta.

Pada kurs yang sama, hasilnya sekitar Rp8,16–10,44 triliun.

Persentase tambahan itu merupakan asumsi sensitivitas, bukan hasil estimasi galangan. Harga sebenarnya bergantung pada spesifikasi, isi paket kontrak, tahun harga, dan pekerjaan yang disepakati.

Perbandingannya harus jujur. Mengganti mesin saja dapat jauh lebih murah daripada membangun satu kapal baru. Maka, harga empat mesin tidak boleh dibandingkan langsung dengan harga seluruh kapal baru untuk menyimpulkan pilihan mana yang paling ekonomis.

Yang diperbandingkan adalah seluruh biaya menjadikan Garibaldi siap menjalankan misi, berikut operasi dan pemeliharaannya selama sisa penggunaan, terhadap seluruh biaya kapal baru untuk menghasilkan kemampuan misi yang sebanding.

Masukkan pula waktu pengerjaan, risiko pembongkaran, kemungkinan pekerjaan tambahan,
kesiapan, serta masa manfaat.
Jangan sampai pilihan yang tampak murah di pintu masuk menjadi mahal karena negara tidak lagi berani keluar.

Dari perangkap anggaran menuju perangkap doktrin

Ada risiko yang pengaruhnya dapat melampaui umur kapal: keterlanjuran berpikir bahwa setiap pertempuran laut harus berpusat pada perlindungan kapal induk.

Begitu kapal induk ditempatkan sebagai pusat perhatian, kapal lain disiapkan untuk mengawalnya. Pengawasan diarahkan untuk mengamankannya. Latihan semakin sering dimulai dengan pertanyaan bagaimana menjaga kapal induk tetap selamat.

Melindungi kapal bernilai tinggi memang diperlukan ketika kapal itu ditugaskan. Tetapi
perlindungan tersebut harus mendukung tujuan operasi. Jangan sampai keselamatan satu kapal menggeser kepentingan pertahanan wilayah.

Bagi Indonesia, selat dan jalur pendekat kepulauan harus menjadi perhatian utama. Armada dibangun untuk menjaga kepentingan tersebut.

Indonesia mempunyai banyak pintu masuk. Kekuatan yang terkumpul mengelilingi satu kapal tidak dengan sendirinya mampu menjaga pintu-pintu lainnya.

Jika kapal induk selamat tetapi jalur strategis tidak terjaga, keberhasilan pengawalan belum menjadi keberhasilan pertahanan negara.

Pelajaran Sriwijaya: lawan dapat memilih pintu lain

Sejarah Sriwijaya patut menjadi bahan renungan.

Salah satu rekonstruksi serangan Chola menggambarkan kekuatan Sriwijaya berada di sekitar Kedah, dekat pintu barat laut Selat Malaka, sementara penyerang mendekat dari selatan melalui Selat Sunda. Rincian jalur dan penempatan armada itu perlu diperlakukan sebagai
rekonstruksi sejarah, bukan kepastian yang seluruh unsurnya telah terbukti.

Pelajaran strategis yang dapat diambil jelas: kekuatan yang terpusat menjaga satu arah dapat dilewati melalui arah lain.

Lawan tidak berkewajiban datang dari pintu yang paling kuat kita jaga. Ia akan mencari ruang yang luput dari perhatian.

Karena itu, pertahanan Indonesia harus mampu mengawasi dan merespons ancaman di berbagai selat serta jalur pendekat. Kekuatan yang tersebar tetap memerlukan komando, informasi, dan dukungan yang terhubung. Penyebaran tanpa koordinasi juga tidak
menghasilkan pertahanan efektif.

Kekuatan dapat dipusatkan sementara sesuai ancaman. Namun, pusat perhatian strateginya harus tetap wilayah dan kepentingan nasional.

Apabila Garibaldi digunakan untuk HADR dan operasi helikopter, tempatkan kapal itu sesuai tugasnya. Kehadirannya tidak boleh menjadi alasan untuk mengarahkan seluruh pembangunan kekuatan pada kebutuhan mengawal kapal induk.

Kapal dapat dihapus, cara berpikir dapat diwariskan

Inilah yang saya maksud dengan risiko “meracuni pikiran para perwira”.

Perwira muda yang terus dibiasakan menyusun latihan dan operasi dengan kapal induk sebagai pusat perhatian dapat membawa kebiasaan itu sampai menjadi pengambil keputusan.

Ketika kapalnya dipensiunkan, pola pikirnya mungkin masih bertahan dalam pendidikan, latihan, dan pengadaan.

Alat yang telanjur dimiliki akhirnya menjadi penentu strategi. Kebutuhan pertahanan disesuaikan agar alat tersebut terus terasa diperlukan.

Di ruang mesin, keterlanjuran berarti biaya tambahan karena pembongkaran sudah dimulai.

Di ruang perencanaan, keterlanjuran berarti pembangunan kekuatan terus mengikuti
kebutuhan kapal yang telanjur ditempatkan sebagai pusat perhatian.

Keduanya dapat saling memperkuat: semakin banyak uang dikeluarkan, semakin kuat
dorongan membenarkan kapal; semakin kuat pembenarannya, semakin mudah anggaran
berikutnya diminta.

Karena itu, saya berpandangan Garibaldi lebih baik diarahkan menuju penghapusan daripada dipertahankan melalui rangkaian perombakan mahal tanpa batas dan tanpa pembuktian manfaat yang jelas. Pelaksanaannya harus didasarkan pada audit kondisi teknis, perbandingan biaya, dan kesiapan kemampuan pengganti.

Indonesia perlu meminta dua pilihan konkret: Garibaldi yang selesai dirombak dan kapal baru berbasis pengembangan LPD dari 163 menjadi 180 meter.

Keduanya dinilai dengan sasaran HADR dan operasi helikopter yang sebanding, disertai biaya, waktu, risiko, dan tanggungjawab hasil yang harus diperiksa. ,,,, Pada saat yang sama, arah pertahanan laut harus tetap menjaga kepulauan, terutama selat dan
jalur pendekatnya.

Jangan sampai kita menambal kapal tua dengan emas, kemudian terus mengeluarkan emas karena terlalu banyak yang sudah telanjur ditanam.

Dan jangan sampai kapal bernama Sriwijaya membuat kita melupakan pelajaran yang hendak kita ambil dari sejarah Sriwijaya: menjaga satu pusat kekuatan tidak cukup untuk mengamankan negeri yang memiliki banyak pintu masuk.

Mesin yang aus dapat diganti. Kapal yang tidak lagi layak dapat dihapus. Tetapi cara berpikir yang keliru dapat bertahan selama beberapa generasi perwira—jauh lebih lama daripada kapalnya.(*/RED)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x