x

Dari Botol Bekas ke Mimpi Besar, Fikri Temukan Hidup Baru di Sekolah Rakyat

waktu baca 3 menit
Senin, 20 Apr 2026 02:04 0 21 Redaksi

Jakarta, (Delik Asia) | Di lorong-lorong keras kehidupan kota, seorang bocah bernama Fikri, yang baru menginjak usia enam tahun, pernah menggantungkan harapan pada botol-botol bekas yang ia pungut dari jalanan. Di saat kanak-kanak lain mengenal dunia sebagai ruang bermain dan belajar, Fikri justru akrab dengan realitas getir: mengais sisa, menakar lapar, dan bertahan dalam sunyi yang terlalu dini.

Fikri adalah anak kedua dari Sri dan M. Ulmi. Retaknya rumah tangga orang tuanya tak hanya memisahkan dua insan dewasa, tetapi juga memecah dunia kecil anak-anak mereka. Fikri dan adiknya, Noval, tinggal di Jakarta bersama sang ayah, sementara saudara lainnya tercerai di Cianjur dan Cibugel. Dalam lanskap keluarga yang terbelah, Fikri tumbuh dengan cara yang tak seharusnya dialami anak seusianya.

Nasib kembali menguji. Sosok ayah yang diharapkan menjadi sandaran justru tak lagi hadir, tersandung persoalan hukum dan mendekam di balik jeruji. Dalam keterbatasan itu, Fikri kecil memikul beban yang terlalu berat: membantu sang nenek menyambung hidup dengan memulung. Sebuah potret getir yang kemudian terekam, menyebar luas, dan mengetuk nurani banyak orang.

Namun, dari pusaran viralitas itulah titik balik kehidupan Fikri bermula. Negara hadir—melalui tangan-tangan yang bekerja dalam senyap—mengantarkannya kembali ke pelukan sang ibu di Sumedang. Meski demikian, keterbatasan ekonomi keluarga membuat pilihan pendidikan menjadi jalan terbaik bagi masa depannya.

Pada 30 Maret 2026, Fikri diterima di Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 4 Sumedang. Di ruang inilah, untuk pertama kalinya, ia mengenal arti rumah dalam makna yang lebih utuh—bukan sekadar tempat berteduh, melainkan ruang yang memeluk, membimbing, dan menumbuhkan harapan.

Awalnya, dunia baru itu terasa asing. Wajah-wajah baru, aturan baru, dan ritme kehidupan yang berbeda membuat Fikri sempat terdiam dalam jarak. Namun kesabaran para wali asuh, guru, dan pengelola asrama perlahan mencairkan beku di hatinya. Sentuhan kasih, ketelatenan, dan kehadiran yang konsisten mengajarkannya kembali untuk percaya.

Kini, senyum yang dulu langka mulai sering merekah. Tawa kecilnya mengisi hari-hari bersama teman sebaya—berlari, bercanda, dan merasakan kembali hak paling sederhana seorang anak: bahagia.

“Aku tinggal di sini. Sekolahnya seru banget. Aku jadi ngerasain punya kakak, punya bapak, punya ibu, banyak teman juga. Semua baik-baik,” ucap Fikri, lirih namun penuh makna.

Lebih dari sekadar ruang belajar, Sekolah Rakyat menjadi ekosistem pemulihan: tempat di mana Fikri menemukan kehangatan yang lama hilang—pelukan yang menenangkan, tepukan yang menguatkan, dan kehadiran yang tak menghakimi. Di sana pula, kebutuhan dasarnya terpenuhi. Makanan bergizi hadir setiap hari, memastikan tubuh kecilnya tumbuh dengan layak.

“Aku juga bisa makan, makanannya enak banget. Aku jadi kuat,” katanya polos.

Kisah Fikri adalah cermin dari banyak anak yang tersembunyi di balik statistik kemiskinan—anak-anak yang kehilangan masa kecil sebelum sempat menikmatinya. Melalui Sekolah Rakyat, negara berupaya menjangkau mereka, menghadirkan bukan hanya pendidikan, tetapi juga pemulihan martabat.

Di tempat itu, tugas Fikri kini sederhana namun agung: tumbuh, belajar, dan bermimpi. Sebab masa depan, pada akhirnya, adalah hak setiap anak—termasuk mereka yang pernah terjatuh terlalu awal.(*/Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x