
Cilegon, (Delik Asia) | Hari kedua di awal tahun baru seharusnya membawa harapan baru. Namun, Cilegon justru dikepung banjir dari berbagai penjuru. Intensitas hujan yang sangat tinggi sejak pagi, diperparah dengan kondisi air laut pasang dan rob maksimum, membuat debit air tak tertampung dan menggenangi hampir seluruh kawasan pesisir.

Tak hanya Jalan Lingkar Selatan–PCI, Semang Raya, dan Warnasari, banjir kali ini juga menerjang luas wilayah Cigading hingga Ciwandan. Genangan meluas karena saluran drainase dan sungai-sungai kecil tak mampu mengalirkan air ke laut. Bukan hanya tersumbat, tetapi permukaan air laut yang tinggi justru mendorong air masuk kembali melalui muara, memperparah genangan di daratan.
Butuh Solusi Permanen, Bukan Tambal Sulam
Kondisi ini menegaskan bahwa Cilegon membutuhkan kanalisasi besar sebagai solusi jangka panjang. Kanal yang mampu menampung dan mengalirkan debit air dalam jumlah besar, terutama pada puncak musim hujan Desember–Januari.

Konsepnya jelas:
Dua kanal besar membentang dari
Jombang–Purwakarta menuju utara (kali Terate)
Citangkil–Ciwandan menuju pesisir pantai Ciwandan
Setiap muara kanal dilengkapi pintu air otomatis berbasis engsel, yang menutup saat air laut pasang dan terbuka ketika surut, sehingga mencegah air laut masuk dan tetap memungkinkan air daratan mengalir ke laut.
Jika infrastruktur ini terwujud, potensi banjir di tahun-tahun berikutnya bisa ditekan secara signifikan.
Soal Anggaran? Ada Jalan Kolaborasi
Di tengah kondisi defisit APBD, proyek kanal besar ini tetap mungkin direalisasikan. Salah satu opsi adalah mengoptimalkan CSR industri dan pabrik-pabrik yang tersebar di seluruh Kota Cilegon.
Masing-masing perusahaan dapat berkontribusi sesuai kapasitasnya. Ini bukan sekadar program sosial—ini investasi untuk kemaslahatan bersama, demi menjaga keberlanjutan kawasan industri terbesar di Banten.
Banjir Bukan Hanya Urusan Pemerintah
Sudah saatnya penanganan banjir dipandang sebagai tanggung jawab kolektif. Pemerintah, industri, hingga para pengusaha tambang galian C perlu menyatukan langkah.
Kita butuh solusi permanen, bukan sekadar langkah darurat sementara.
Dengan sinergi, komitmen, dan keberanian mengambil langkah besar, Cilegon bisa keluar dari siklus banjir tahunan dan membangun sistem mitigasi yang lebih tangguh untuk masa depan.(*/Red)

Tidak ada komentar