x

Dawuh Kyai Said Aqil Siroj: Melawan Hawajis Nafsu dan Menjaga Harapan pada Ampunan Allah

waktu baca 3 menit
Minggu, 31 Mei 2026 23:29 0 23 Redaksi

Jakarta, (Delik Asia) |  Manusia senantiasa hidup dalam arus inspirasi dan dorongan yang memengaruhi pikiran serta tindakannya. Dalam salah satu tausiyahnya, KH Said Aqil Siroj menjelaskan bahwa inspirasi yang masuk ke dalam diri manusia setidaknya berasal dari empat sumber yang berbeda, masing-masing memiliki karakter dan pengaruh tersendiri terhadap kehidupan.

Menurut beliau, inspirasi yang datang dari Allah disebut sebagai hidayah. Hidayah merupakan petunjuk yang mengarahkan manusia kepada kebaikan, mendorong lahirnya sikap yang benar, serta memperkuat langkah seseorang dalam menjalani kehidupan yang diridhai-Nya.

Sumber kedua berasal dari malaikat, yang diwujudkan dalam bentuk ilmu pengetahuan, kecerdasan, dan pemahaman. Inspirasi ini membantu manusia menemukan kebijaksanaan, memperluas wawasan, serta membimbingnya dalam mengambil keputusan yang tepat.

Adapun inspirasi yang datang dari setan dikenal dengan istilah wasawis atau waswas. Bentuknya berupa bisikan yang muncul secara spontan, mengajak manusia kepada penyimpangan dan keburukan. Meski demikian, menurut Kyai Said, godaan semacam ini masih relatif lebih mudah dikenali dan dilawan.

Namun tantangan terbesar justru datang dari sumber keempat, yakni hawajis atau dorongan hawa nafsu yang berasal dari dalam diri manusia sendiri. Inilah godaan yang paling sulit ditaklukkan karena tidak datang dari luar, melainkan tumbuh dan berkembang dari keinginan diri yang tidak terkendali.

“Ketika seseorang melakukan kejahatan yang direncanakan secara matang, tersusun rapi, dan dijalankan dengan penuh perhitungan, itu bukan semata-mata akibat godaan setan. Dalam banyak kasus, hal tersebut merupakan manifestasi dari hawa nafsu yang telah menguasai dirinya,” ujar beliau.

Kyai Said mengingatkan bahwa tarikan hawajis nafsaniyah hadir di setiap ruang kehidupan. Godaan tersebut dapat muncul di rumah, di lingkungan kerja, bahkan di tempat-tempat ibadah sekalipun. Karena itu, perjuangan melawan hawa nafsu merupakan jihad batin yang berlangsung sepanjang hayat.

Menurutnya, hanya mereka yang memiliki kebijaksanaan spiritual dan kedalaman makrifat yang mampu mengendalikan dorongan tersebut. Orang-orang seperti ini telah merasakan keindahan iman, ihsan, serta kedekatan dengan Allah Yang Maha Ada, sehingga kenikmatan spiritual yang mereka rasakan menjadi benteng yang kokoh dalam menghadapi godaan nafsu.

Meski demikian, Kyai Said menegaskan bahwa manusia tidak boleh tenggelam dalam keputusasaan ketika melakukan kesalahan. Sebesar apa pun dosa yang diperbuat, pintu taubat senantiasa terbuka. Selama seseorang mau menyesali perbuatannya, memohon ampun dengan sungguh-sungguh, serta bertekad untuk tidak mengulanginya kembali, Allah akan menerima taubat hamba-Nya.

Beliau mengingatkan bahwa dosa manusia, sebanyak dan sebesar apa pun, tetaplah sesuatu yang terbatas. Sebaliknya, maghfirah atau ampunan Allah tidak memiliki batas. Kasih sayang-Nya melampaui segala kesalahan dan kelemahan yang dimiliki manusia.

Karena itu, pesan utama yang perlu dijaga adalah tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah. Kehidupan adalah proses yang terus-menerus mengajak manusia untuk memperbaiki diri, menjaga kualitas iman, melawan tarikan hawa nafsu, serta kembali kepada Allah dengan hati yang tulus dan penuh harap.

Di tengah berbagai tantangan zaman, nasihat ini menjadi pengingat bahwa kemenangan sejati bukan hanya terletak pada kemampuan mengalahkan musuh di luar diri, melainkan pada keberhasilan menaklukkan hawa nafsu yang bersemayam di dalam hati.(*/RED)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x