x

Lurah Grogol Luruskan Isu Rutilahu di Hadapan Media, Pastikan Tidak Ada Penyimpangan Mekanisme

waktu baca 2 menit
Senin, 24 Nov 2025 21:40 0 67 Redaksi

Cilegon, (Delik Asia) | Lurah Grogol, Firman Yudha Nugroho, memberikan penjelasan terkait berbagai pemberitaan serta keluhan warga mengenai pelaksanaan Program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu). Ia menuturkan bahwa sebagian isu yang berkembang tidak sepenuhnya akurat dan muncul akibat kurangnya pemahaman di lapangan.

Firman menegaskan bahwa seluruh tahapan kegiatan telah dijalankan sesuai petunjuk teknis, termasuk ketentuan pencairan upah tukang yang hanya bisa dilakukan setelah pekerjaan mencapai 50 persen.

“Pencairan upah baru bisa dilakukan ketika progres sudah melewati tengah pembangunan. Itu aturan resmi. Jika ada permintaan kasbon dari tukang, sejak awal sebenarnya sudah disampaikan bahwa program ini berbasis swadaya,” ujarnya.

Ia menambahkan, Keluarga Penerima Manfaat (KPM) semestinya memiliki dana cadangan untuk menutupi kebutuhan swadaya seperti pembayaran tukang sebelum jadwal resmi cair. Firman memastikan pencairan upah akan dilakukan pada Selasa mendatang melalui Bank BJB secara tunai.

Terkait isu “nota kosong”, ia menjelaskan bahwa yang dimaksud bukanlah bukti pembayaran maupun tagihan, melainkan surat jalan distribusi material. “Itu dokumen pengantar barang. Sepertinya masih ada warga yang belum memahami sistem baru ini. Jika sebelumnya ada penjelasan yang kurang jelas, kami meminta maaf,” kata Firman.

Ia juga mengungkapkan bahwa pembangunan Rutilahu saat ini lebih berfokus pada pekerjaan struktur, bukan hanya perbaikan atap, lantai, dan dinding (Aladin).

Firman menegaskan bahwa nilai bantuan Rp30 juta tidak diberikan dalam bentuk uang tunai. Dana tersebut dibagi menjadi material senilai Rp23 juta dan upah tenaga kerja sebesar Rp7 juta. “Semua sudah ditetapkan, penerima tidak menerima uang tunai,” tegasnya.

Pemilihan toko penyedia material dilakukan melalui assessment oleh Tim Fasilitator Lapangan (TFL), sedangkan tukang dipilih langsung oleh KPM.

Menjawab tudingan adanya pembangunan yang berhenti hingga dua minggu, Firman membantahnya. “Setahu kami pekerjaan di Cioragede justru baru berjalan dalam dua pekan terakhir. Jika ada jeda dua atau tiga hari mungkin saja, tapi disebut terhenti dua minggu, itu tidak sesuai fakta,” jelasnya.[Feby]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x