x

Wajah Ibu dalam Doa untuk “Bang Affan OJOL”

waktu baca 5 menit
Sabtu, 30 Agu 2025 20:29 0 137 Redaksi

Delik Asia, (Jakarta) | Affan Kurniawan, seorang pemuda berusia 21 tahun, adalah tulang punggung keluarga sejak kepergian ayahnya. Sebagai pengemudi ojek online (ojol), ia bekerja keras untuk menghidupi ibunya yang telah menua. Namun, di tengah kesibukan dan impian sederhananya, nasib membawanya pada pertemuan terakhir dengan Jakarta yang penuh hiruk-pikuk. Dalam sebuah kecelakaan tragis yang terjadi di tengah kerusuhan, Affan menjadi korban yang tak terhindarkan. Sebuah cerita sedih tentang perjuangan hidup seorang anak muda yang mencintai ibunya, namun harus menghadapi kenyataan pahit yang datang begitu cepat.

Affan Kurniawan adalah seorang pemuda biasa yang hidup di Jakarta. Usianya baru 21 tahun, namun ia sudah harus memikul beban kehidupan yang seharusnya bukan tanggung jawabnya. Sejak ayahnya meninggal dunia beberapa tahun lalu, Affan menjadi tulang punggung keluarga, menggantikan peran ayahnya yang tak bisa lagi memberi nafkah. Ibunya, yang dulunya selalu ada untuknya, kini menjadi sosok yang rapuh, meski hatinya tetap penuh kasih sayang dan harapan.

Sehari-hari, Affan bekerja sebagai pengemudi ojek online. Motor tuanya, yang telah banyak menempuh jalanan Jakarta, menjadi alat untuk menjemput rezeki demi menutupi kebutuhan hidupnya dan ibunya. Meskipun demikian, Affan tak pernah mengeluh. Setiap malam setelah pulang, ia menyempatkan diri untuk salat bersama ibunya, berbincang sejenak, dan memastikan ibunya tetap merasa tenang.

Namun, kehidupan yang dijalaninya, meski penuh cinta dan kerja keras, tak selalu bisa berjalan sesuai harapan.

Pada suatu sore yang tenang, setelah menunaikan salat Ashar, ibunya memanggil dari dapur. “Fan, makan dulu nak. Jangan buru-buru keluar.”

Suara lembut ibunya selalu memberi rasa hangat di dada Affan. Namun, saat itu, ia hanya menjawab, “Nanti ya, Bu. Affan cuma sebentar keluar. Ada orderan dekat-dekat sini.” Affan tahu betul betapa ibunya selalu khawatir, tetapi ia berjanji untuk segera pulang.

Dengan jaket ojol yang sudah mulai pudar warnanya, ia melangkah keluar, menembus jalanan Jakarta yang mulai dipenuhi debu. Langit senja itu terlihat jingga, bercampur debu jalanan. Jakarta selalu terasa hiruk-pikuk, tapi hari itu seakan ada sesuatu yang berbeda. Affan tidak tahu bahwa sore itu adalah pertemuan terakhirnya dengan matahari yang begitu indah.

Saat melaju dengan motor tuanya, tiba-tiba ia mendengar suara keras dari kerumunan massa yang sedang beraksi di sekitar Gedung DPR/MPR. Teriakan-teriakan menggelegar memecah suasana. Namun, Affan bukanlah bagian dari demonstrasi itu. Ia hanya seorang pengemudi ojek yang mencari nafkah, berusaha mencari jalur yang aman.

“Lewat mana, ya Allah,” gumamnya, sedikit kebingungan dengan kondisi jalan yang semakin sempit. Ia melambatkan motornya, mencoba menghindari kerusuhan yang semakin memanas.

Namun, takdir berkata lain. Jalanan yang licin, sisa air hujan yang belum sepenuhnya kering, dan kerikil-kerikil kecil membuat motor Affan oleng. Dalam sekejap, tubuhnya terpelanting ke jalanan yang keras. Affan terjatuh, berusaha bangkit meski lututnya terluka dan napasnya tersengal.

Dalam kondisi terpuruk, ia mendengar suara deru mesin besar yang semakin mendekat—sebuah kendaraan milik Brimob, rantis yang melaju tanpa ampun. Suara teriakan orang-orang di sekitar semakin keras, “Ada ojol di bawah! Ada orang jatuh! Berhenti!” Tetapi, kendaraan itu tetap melaju tanpa memperlambat laju.

Waktu seolah berhenti bagi Affan. Di tengah kegelisahan dan kepanikan, wajah ibunya yang selalu penuh kasih sayang terbayang jelas di matanya. Ia ingat pesan singkat yang belum sempat dibalas, mimpi sederhana untuk membelikan kursi roda untuk nenek yang sudah tua dan tidak bisa berjalan jauh.

“Ya Allah, jaga Ibu…” bisiknya pelan, sebelum roda baja itu menutup pandangannya.

Kehilangan dan Kenangan

Detik berikutnya, tubuh muda itu terbaring tanpa nyawa. Jeritan massa semakin memecah keheningan jalanan Jakarta yang mendung. Rekan-rekannya sesama pengemudi ojol segera datang, mengangkat tubuhnya yang tak lagi bergerak, dan bergegas membawanya ke rumah sakit terdekat. Mereka berlari dengan harapan, meski mereka tahu, tak ada lagi yang bisa menyelamatkan Affan.

Di rumah sakit yang dingin, di lorong yang sunyi, napas Affan berhenti. Senyumnya yang seharusnya menyembuhkan kini membeku, meninggalkan kesunyian yang tak tertahankan.

Di rumah duka, ibunya menunggu dengan tatapan kosong. Ketika kain putih menutupi wajah anak yang semalam masih berpamitan untuk bekerja, tangisannya pecah seperti hujan yang tak bisa berhenti. “Fan, kau belum sempat makan… Kau belum sempat pulang,” isaknya, memeluk tubuh yang kini telah menjadi dingin.

Para sahabat sesama ojol berdiri di sampingnya, mata mereka sembab. Mereka bukan hanya kehilangan teman, tetapi juga seorang pejuang yang tak pernah mengenal lelah, seorang anak muda yang hanya ingin bekerja dan memberi yang terbaik untuk keluarganya. Mereka kehilangan Affan, seorang pahlawan tak bernama yang hidupnya selalu dipenuhi dengan kerja keras dan doa.

Jakarta malam itu terasa lebih dingin. Asap demo masih mengepul di udara, sementara lampu-lampu jalan masih menyala, tetapi ada satu cahaya yang telah padam selamanya. Nama Affan Kurniawan kini hanya tinggal kenangan, namun luka yang ia tinggalkan akan terus hidup dalam hati mereka yang mencintainya.

Di langit sana, mungkin Affan sedang mengantar pesanan terakhirnya—sebuah doa untuk ibunya agar tetap kuat, dan untuk negeri ini, agar tidak lagi memakan anak-anak muda yang penuh harapan. Affan pergi, namun kisahnya akan terus dikenang, sebagai pengingat betapa beratnya kehidupan, tetapi betapa besar cinta seorang anak kepada ibunya.[Di2n Bk]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x