
Delik Asia, (Keerom, 22 Agustus 2025) | Di tengah rindangnya kebun sagu Kampung Wembi, Distrik Mannem, Kabupaten Arso, suasana akrab dan penuh kebersamaan mewarnai interaksi antara prajurit TNI dan warga. Hari itu, sejumlah personel Satgas Yonif 131/Brajasakti yang dipimpin Sertu Brandolli larut dalam kegiatan khas masyarakat Papua: mengolah sagu secara tradisional.

Di bawah bimbingan Mama Bogor, seorang perempuan paruh baya berusia 53 tahun, para anggota Pos Wembi belajar langsung proses pembuatan sagu. Mulai dari memarut batang sagu hingga memeras sarinya, semua dilakukan dengan alat-alat manual yang biasa digunakan masyarakat setempat.
“Kami senang sekali Satgas mau ikut belajar cara membuat sagu. Ini adalah makanan pokok dan kebanggaan kami di Papua,” ujar Mama Bogor dengan mata berbinar dan senyum lebar.
Kegiatan berlangsung dalam suasana cair. Candaan dan tawa ringan sesekali terdengar di sela kerja bersama. Tidak ada batas antara seragam loreng dan pakaian sehari-hari. Semua larut dalam semangat gotong royong.


Bagi Satgas Yonif 131/Brajasakti, kegiatan ini bukan sekadar pelibatan sosial. Lebih dari itu, menjadi ruang pembelajaran tentang kearifan lokal yang tumbuh di tanah perbatasan. “Kami ingin mengenal masyarakat lebih dekat, termasuk memahami tradisi dan budaya mereka,” ujar Sertu Brandolli.
Kedekatan semacam ini telah menjadi bagian dari strategi pendekatan humanis Satgas di wilayah perbatasan. Melalui kegiatan sederhana seperti ini, jembatan emosional antara aparat dan warga dibangun—dari dapur-dapur tradisional hingga ladang-ladang yang menyatu dengan alam.[Red/**]







Tidak ada komentar