x

KPK Gandeng Universitas Paramadina Kampanye “Biasakan yang Benar”

waktu baca 3 menit
Kamis, 9 Okt 2025 18:18 0 54 Redaksi

Delik Asia, (Jakarta) | Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama Universitas Paramadina menggagas gerakan kampanye bertajuk “Biasakan yang Benar”, sebuah program edukatif yang dikemas seru dan kreatif untuk menumbuhkan semangat integritas serta budaya antikorupsi di kalangan muda.

Selama dua hari, kampus Paramadina di Cipayung, Jakarta, ramai oleh berbagai kegiatan menarik, mulai dari talkshow antikorupsi, panggung integritas, hingga workshop media sosial dan diskusi film antikorupsi.

Kegiatan dibuka dengan talkshow bertema “Penanganan Korupsi dari Pengalaman Pimpinan KPK” di Auditorium Firmanzah, Gedung Nurcholish Madjid, Rabu (8/10). Acara ini menjadi ruang refleksi dan pembelajaran bagi mahasiswa agar menjadi agen perubahan (agent of change) dalam mendorong transparansi dan akuntabilitas publik.

Dalam sambutannya, Dr. Fatchiah E. Kertamuda, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Paramadina, menuturkan bahwa sejak 2008 Paramadina telah menjadi salah satu perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menetapkan mata kuliah Pendidikan Antikorupsi sebagai mata kuliah wajib.

“Kesadaran dan aksi kolektif mahasiswa adalah elemen penting agar kampus dapat terus menjaga integritas akademik. Melalui program Biasakan yang Benar, kami ingin Paramadina menjadi contoh nyata institusi pendidikan yang bersih dan akuntabel,” ujarnya.

Sebagai pembicara utama, Ibnu Basuki Widodo, Pimpinan KPK, mengungkapkan bahwa korupsi kerap dilakukan oleh pihak yang memiliki kekuasaan atau power. Ia menegaskan bahwa persoalan korupsi berakar dari konflik kepentingan dan minimnya transparansi.

“Korupsi sering tumbuh karena kurangnya keterbukaan. Transparansi adalah kunci, karena ketika proses tertutup, kepercayaan publik pun hilang,” jelasnya.

Ibnu juga memaparkan konsep trisula pemberantasan korupsi: pendidikan, pencegahan, dan penindakan. Pendidikan dan pencegahan bersifat preventif, sementara penindakan merupakan langkah represif yang harus mendapat dukungan sosial agar pelaku tidak leluasa bergerak.

Tokoh pendidikan Anies Baswedan, salah satu penggagas mata kuliah Antikorupsi di Paramadina, turut memberikan pandangan reflektif.

“Acara ini bukan sekadar diskusi, tapi bagian dari membangun budaya integritas. Kita menumbuhkan pemahaman dan kesadaran hingga menjadi kebiasaan dan peradaban yang berintegritas,” ujarnya.

Sementara itu, Wijayanto Samirin, MPP, inisiator program Pendidikan Antikorupsi Universitas Paramadina, menjelaskan bahwa mata kuliah ini dirancang dengan pendekatan praktis. Mahasiswa tak hanya belajar teori, tetapi juga terjun langsung dalam berbagai kegiatan—mulai dari penyusunan investigative report, menghadiri sidang Tipikor, hingga menganalisis kasus nyata.

“Kami ingin mahasiswa memahami korupsi secara komprehensif: bagaimana terjadi, dampaknya, dan bagaimana mencegahnya dari lingkup kecil,” ujarnya.

Suasana kampanye makin meriah dengan Panggung Integritas bertema “Tantangan Menjaga Integritas Saat Menindak Koruptor!” bersama narasumber dari KPK. Sesi ini dipandu komedian Gilbhas dan Asriana Issa Sofia, serta penampilan spesial Paramadina Choir.

Hari kedua, Kamis (9/10), diisi Workshop Media Sosial bertajuk “Optimalisasi Clipper Digital dalam Media Sosial” bersama Farchan Noor Rachman (ASN Ditjen Pajak) dan Rahardian Shandy Ekohandito (Dosen Ilmu Komunikasi Paramadina).

Selain itu, ada Klinik Antikorupsi, Edukasi Film Antikorupsi (ACFFest KPK), dan sesi inspiratif bersama Sherly Annavitas, Rauf Afoche, Al Razi Radja Haikal (KPK), Lina Anggraeni, dan Rona Mentari.

Kemeriahan makin lengkap dengan penampilan Angklung Perempuan Indonesia, Teater KafHa, dan Paramadina Choir. Tak ketinggalan, booth edukasi interaktif, quiz berhadiah, dan instalasi integritas ikut menarik minat mahasiswa.

Melalui kampanye “Biasakan yang Benar” ini, Universitas Paramadina dan KPK berupaya menanamkan nilai antikorupsi secara kreatif dan berkelanjutan. Harapannya, generasi muda tak hanya memahami pentingnya integritas, tetapi juga menjadikannya bagian dari gaya hidup sehari-hari.[Red/**]

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x