Karangnongko Dikebut, Pemerintah Incar Ketahanan Air dan Panen Berlipat
waktu baca 2 menit
Kamis, 31 Jul 2025 22:05 0 113 Redaksi
Delik Asia, (Jakarta) | Kementerian Pekerjaan Umum berkomitmen menyelesaikan pembangunan bendungan yang saat ini dalam tahap konstruksi sebagai bagian dari upaya mendukung Visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Salah satu proyek strategis yang menjadi prioritas adalah Bendungan Karangnongko, yang berada di perbatasan Kabupaten Bojonegoro (Jawa Timur) dan Blora (Jawa Tengah).
Pembangunan bendungan ini menjadi bagian dari strategi besar penguatan infrastruktur sumber daya air nasional guna mendukung ketahanan pangan, energi, serta pengelolaan air yang berkelanjutan. Proyek ini mulai dikerjakan sejak 2023 oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, melalui dua paket pekerjaan dengan nilai kontrak mencapai Rp1,26 triliun, dan ditargetkan selesai pada 2026.
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menjelaskan bahwa pengelolaan bendungan tidak hanya berkutat pada pembangunan fisik dan kapasitas tampung, tetapi juga menyangkut jaminan ketersediaan air untuk irigasi sepanjang tahun.
“Dengan selesainya pembangunan fisik bendungan, fokus selanjutnya adalah percepatan pengembangan jaringan irigasi teknis. Ini penting untuk mendukung produktivitas pertanian dan meningkatkan masa panen petani,” ujar Menteri Dody di Jakarta, Kamis (31/7/2025).
Manfaat Strategis Bendungan
Bendungan Karangnongko dirancang dengan kapasitas tampung 59,1 juta meter kubik, yang akan mengairi Daerah Irigasi (DI) seluas total 6.949 hektare, yaitu DI Karangnongko Kiri di Kabupaten Blora seluas 1.746 ha dan DI Karangnongko Kanan di Kabupaten Bojonegoro seluas 5.203 ha.
Selain irigasi, bendungan ini juga berperan dalam penyediaan air baku sebesar 1.150 liter per detik untuk empat kabupaten, yakni Bojonegoro, Ngawi, Blora, dan Tuban. Kapasitas ini diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan air minum bagi lebih dari 270.000 jiwa.
Tak hanya itu, bendungan juga didesain sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir Sungai Bengawan Solo dengan potensi reduksi banjir hingga 760 hektare. Sistem ini akan melengkapi infrastruktur pengendali banjir yang sudah ada seperti Bendung Gerak Bojonegoro, Babat, dan Sembayat.
Potensi Energi dan Pariwisata
Kepala BBWS Bengawan Solo, Gatut Bayuadji, menambahkan bahwa selain fungsi utama untuk irigasi dan pengendalian banjir, Bendungan Karangnongko juga memiliki potensi pengembangan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kapasitas 1 Mega Watt.
“Ke depan, bendungan ini juga berpotensi menjadi destinasi wisata berbasis air dan kuliner yang dapat menggerakkan ekonomi lokal masyarakat Bojonegoro dan Blora,” ujar Gatut.
Pembangunan Bendungan Karangnongko menjadi bagian dari strategi PU608 yang menargetkan kontribusi infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen pada tahun 2029. Dengan luas genangan mencapai 1.026 hektare, proyek ini diharapkan memberi manfaat jangka panjang dalam mendukung ketahanan pangan, air, dan energi nasional, serta memperkuat konektivitas wilayah tengah dan timur Pulau Jawa.[Tgy/**]
Tidak ada komentar