x

TKA SMP Digelar, Siswa Berkebutuhan Khusus Ikuti Ujian dengan Semangat dan Percaya Diri

waktu baca 3 menit
Kamis, 9 Apr 2026 02:02 0 51 Redaksi

Jakarta, (Delik Asia) | Semangat belajar tak pernah mengenal batas. Di tengah berbagai keterbatasan, siswa-siswi berkebutuhan khusus di berbagai daerah tetap menapaki harapan melalui pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang kembali digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Senin (6/4/2026).

TKA kali ini menjadi kelanjutan dari kebijakan pemetaan akademik yang sebelumnya diterapkan di jenjang pendidikan menengah. Kini, giliran siswa SMP/MTs/sederajat, termasuk peserta didik di Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), yang merasakan pengalaman serupa—mengukur kemampuan sekaligus membangun kepercayaan diri.

Di SLBN Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur, suasana ujian terasa hangat dan penuh optimisme. Sejak pagi, para siswa telah bersiap, menata semangat di tengah keterbatasan yang mereka miliki. Enam siswa tunarungu mengikuti TKA dengan tekad yang tak surut.

“Kami melihat semangat yang luar biasa dari anak-anak untuk terus belajar dan mencoba,” ujar Kepala SLBN Pandaan, Iva Evry Robiyansah.

Suasana yang tak kalah inspiratif juga terlihat di SLBN Semarang, Jawa Tengah. Pelaksanaan ujian berlangsung santai namun tetap fokus. Tiga siswa—dua tunarungu dan satu tunanetra—mengikuti ujian dengan kesiapan yang telah dibangun jauh hari.

“Kami sudah mempersiapkan mereka sejak lama, sehingga mereka bisa lebih percaya diri saat menghadapi soal,” kata Kepala SLBN Semarang, Sri Sugiarti.

Di ujung timur Indonesia, tepatnya di SLBN Halmahera Barat, semangat itu bahkan melampaui ekspektasi. Seorang siswa tunagrahita yang sejatinya tidak diwajibkan mengikuti TKA justru menunjukkan keinginan kuat untuk berpartisipasi.

“Dia ingin tetap ikut, ingin merasakan pengalaman belajar seperti teman-temannya,” tutur Kepala SLBN Halmahera Barat, Ismawati Muhammad.

Di sekolah tersebut, sembilan siswa mengikuti TKA dengan dukungan pelatihan dasar penggunaan komputer serta pendampingan intensif sebelum ujian berlangsung.

Kisah keteguhan juga datang dari Raka Aditomo Subagyo, siswa tunanetra dari SLBN Pembina Tingkat Nasional Jakarta. Dengan penuh keyakinan, ia mengaku siap menghadapi soal-soal ujian yang telah dipelajarinya.

“Saya optimistis karena materi yang keluar sudah kami pelajari,” ujarnya.

Bagi Raka, tantangan tetap ada, terutama pada soal berbasis visual. Namun, kehadiran guru pendamping serta perangkat bantu seperti headset yang terhubung dengan screen reader menjadi jembatan yang memudahkan.

“Headset ini membantu kami lebih fokus dan memahami soal, terutama yang berbasis gambar,” jelasnya.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa TKA tidak sekadar menjadi alat ukur capaian akademik, tetapi juga akan berperan dalam sistem penerimaan murid baru ke jenjang berikutnya.

“Hasil TKA nantinya menjadi salah satu komponen penilaian dalam proses penerimaan murid baru,” ungkapnya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar siswa tidak terbebani. Kejujuran dan kesungguhan, menurutnya, menjadi kunci utama dalam mengikuti tes ini.

Pelaksanaan TKA untuk jenjang SMP/MTs/sederajat dijadwalkan berlangsung selama dua pekan. Lebih dari sekadar ujian, TKA menjadi cermin komitmen menghadirkan pendidikan yang inklusif—di mana setiap anak, tanpa terkecuali, memiliki ruang untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi.(*/Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x