x

Garuda Institute: Soeharto Layak Mendapatkan Gelar Pahlawan Nasional

waktu baca 3 menit
Minggu, 9 Nov 2025 20:41 0 79 Redaksi

Jakarta, (DelikAsia) | Direktur Garuda Institute, Muhammad Irvan Mahmud Asia menilai Presiden ke 2 RI Soeharto layak dianugerahi gelar pahlawan nasional atas jasa-jasanya selama 32 tahun memimpin Indonesia.

Menurut Irvan, penolakan pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto sangat disayangkan. “Tentu kita menghargai dan menghormati para pihak yang menolak, tetapi apapun keputusan pemerintah nanti, harus juga dihormati,” ujar Irvan dalam keterangan tertulis, Minggu (8/11/2025).

Ia menilai Soeharto berhasil memulihkan keamanan pasca peristiwa G30S/PKI dan menjadi titik balik mencegah disintegrasi. Bahwa terdapat kontroversi dalam pelaksanaannya, Irvan menegaskan tindakan tersebut dilakukan dalam konteks penyelamatan bangsa dari rongrongan ideologi komunis.

Soeharto juga dengan gigih melakukan pembangunan nasional dengan konsep Triloginya: stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi tinggi, dan pemerataan pembangunan.

“Saya kira apa yang dicapai era Soeharto seperti swasembada beras 1984 dari sebelumnya negara pengimpor beras dan ini mendapatkan penghargaan dari FAO patut dibanggakan. Saat itu juga, Indonesia memberikan bantuan 100 ribu ton padi untuk korban kelaparan di Afrika,” tutur Irvan.

Irvan juga memuji kebarhasilan Soeharto menurunkan hiperinflasi 500% era Soekarno yang saat itu dibantu oleh berbagai teknokrat seperti Soemitro Djojohadikoesoemo sehingga ekonomi Indonesia perlahan menjadi stabil.

Kemudian, ada program Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang menurunkan angka kemiskinan dari sekitar 40% pada awal 1970-an menjadi 11% diawal 1990-an.

“Jasa-jasa Pak Harto lain adalah peluncuran satelit palapa yang menjadikan Indonesia negara pertama di Asia Tenggara yang punya satelit yang memberikan manfaat kemudahan radio, televisi, telekomunikasi, dan sebagainya,” ujarnya.

Selanjutnya program Keluarga Berencana (KB) yang tujuannya mengendalikan pertumbuhan penduduk dengan mempromosikan keluarga kecil, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ia menilai KB ini berhasil menekan angka kelahiran, sehingga Indonesia terhindar dari ledakan populasi. Angka kematian bayi juga dapat ditekan, termasuk usia harapan hidup rata-rata orang Indonesia juga naik dan ini diakui oleh lembaga internasional berupa penghargaan tertinggi Population Award dari UNICEF pada 1989.

Selama hidupnya, Soeharto menerima 37 tanda kehormatan dari berbagai negara, dan tujuh dari badan dunia sebagai bentuk pengakuan atas kinerjanya dan menjadi fondasi kuat pembangunan setelahnya. “Ini tidak bisa dinafikan dan harus ditempatkan selayaknya putra putri terbaik Indonesia lain yang sudah mendapatkan gelar pahlawan nasional,” katanya.

“Kita harus menghormati jasa para pendahulu. Tidak adil jika terus menerus menempatkan Soeharto hanya melihat sisi buruknya, harus proporsional” jelasnya.

Irvan berharap penganugerahan gelar pahlawan nasional bagi Soeharto menjadi momentum refleksi dan keteladanan bagi masyarakat terutama generasi muda Indonesia.

“Disiplin, komitmen, dan kerja keras Pak Harto terhadap bangsa perlu diteladani. Bahwa membangun negara membutuhkan keteguhan dan semangat pengabdian,” tutur Irvan.

Ia menambahkan, bangsa ini harus menatap kedepan dalam visi besar persatuan nasional dan salah satu caranya dengan menghargai tokoh atau pemimpin masa lalu tanpa kehilangan sikap kritis seperti yang dicontohkan presiden ke 3 Gus Dur, Taufiq Kiemas, hingga Presiden Prabowo Subianto.

Lebih jauh, Irvan menyebut proses usulan pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto sudah melalui proses panjang bahkan sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).[Red/FBi]

 

Penulis : Irvan Mahmud

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x