Pandeglang, (Delik Asia) | Ratusan masyarakat dari berbagai kampung di Desa Sukarame, Kecamatan Carita,
Kabupaten Pandeglang, Banten, menggelar doa bersama dan istigasah kubra pada Jumat (11/9/2026) malam. Aksi religi ini ditujukan untuk keselamatan lima jurnalis dan tiga Anak Buah Kapal (ABK) speedboat Arupadhatu 1 yang dilaporkan hilang kontak sejak Senin (7/9/2026) lalu saat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.
Kegiatan yang berlangsung khusyuk mulai pukul 20.00 WIB ini dipusatkan di Saung Marina Lippo Carita, tepat di samping Posko SAR Gabungan Dermaga Marina.
Lantunan surat Yasin dan iqamah dipimpin langsung oleh Ketua MUI Kecamatan Carita, Ustaz Anhar Muhyani.
Acara ini dihadiri oleh sedikitnya 300 warga setempat bersama jajaran pejabat daerah, TNI, relawan, komunitas pers, serta aparat kepolisian termasuk Kapolsek Labuan Iptu Supandi dan Kasat Polair Polres Pandeglang Iptu Turip.
Iptu Turip menjelaskan bahwa aksi doa bersama ini merupakan arahan langsung dari Kapolda Banten, Irjen Pol Hengki. Tujuannya adalah memberikan dukungan moril bagi keluarga korban serta memohon petunjuk agar proses pencarian oleh Tim SAR Gabungan segera membuahkan hasil.
“Istigasah ini adalah instruksi langsung dari Bapak Kapolda Banten. Kami ingin mengetuk pintu langit bersama warga Desa Sukarame agar saudara-saudara kita, yakni lima jurnalis dan tiga ABK, bisa segera ditemukan dalam waktu cepat,” ujar Iptu Turip di lokasi acara.

Malam Sabtu (11/09), mulai pukul 20:00 WIB. Ratusan warga Desa Sukarame, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, menggelar Istiqosah atau doa bersama untuk kelima Jurnalis dan tiga ABK speedboat yang hilang kontak, pada Senin (7/9/2026) lalu agar dapat ditemukan secepatnya. (Foto: DY)
Turip juga mengapresiasi empati tinggi dari masyarakat Carita. Pasalnya, sejak hari pertama musibah hilangnya kapal tersebut, warga di tiap-tiap kampung secara swadaya sudah rutin menggelar yasinan di masjid-masjid.
“Kami sangat merasakan kesedihan yang dialami keluarga korban. Semoga mereka diberikan ketabahan yang luar biasa dalam menghadapi ujian ini,” tambahnya.
Rasa kehilangan mendalam salah satunya dirasakan oleh Oras Rasidi, seorang wiraswasta asal Kampung Leson, Desa Sukarame. Oras merupakan kerabat dari istri Herianyanto alias Bonsai, pemandu wisata (guide) sekaligus kru speedboat yang hilang.
Oras menuturkan, Bonsai merupakan sosok yang dikenal sangat ramah oleh warga sekitar. Kehadiran ratusan warga dari berbagai kampung—seperti Kampung Leson, Legon, Karawang, Binglu, hingga Sanghiyang—menjadi bukti solidaritas kuat antar-sesama.
“Kami berkumpul di sini dengan satu harapan besar agar seluruh korban bisa secepatnya ditemukan.
Bagaimanapun kondisinya nanti, pihak keluarga dan warga sudah siap menerima takdir terbaik dari Allah SWT. Namun, kami tentu tetap berharap ada mukjizat,” ungkap Oras.
Hingga saat ini, Tim SAR Gabungan yang terdiri dari Basarnas, Polair, TNI, dan relawan masih terus melakukan penyisiran intensif di sekitar perairan Selat Sunda untuk melacak keberadaan kapal dan para korban.(*/FBY/RED)
Tidak ada komentar