
Dokumentasi: Kepala DLH Kota Cilegon Sabri Mahyudin Cilegon, (Delik Asia) | Sampah kini tidak lagi dipandang semata sebagai limbah, melainkan berpotensi menjadi instrumen ekonomi sekaligus sarana edukasi bagi pelajar. Melalui program Kolase (Ekonomi Sirkular di Sekolah), Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon menargetkan 120 sekolah untuk menerapkan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular pada tahun ini.

Kepala DLH Kota Cilegon Sabri Mahyudin mengatakan, target tersebut merupakan arahan langsung Wali Kota Cilegon Robinsar, menyusul hasil positif dari pelaksanaan tahap awal program Kolase. Pemerintah daerah menilai pendekatan edukatif dan berbasis insentif ekonomi ini efektif membangun kesadaran lingkungan sejak usia sekolah.
“Pak Wali menugaskan kami agar program Kolase diperluas menjadi 120 sekolah. Saat ini kami sudah memasuki tahap kedua di 16 sekolah, setelah tahap pertama melibatkan empat sekolah,” ujar Sabri kepada Diskominfo Statistik dan Persandian Kota Cilegon.
Sabri menjelaskan, program Kolase dijalankan melalui kolaborasi DLH Kota Cilegon, PT Chandra Asri, Bank Sampah, serta sektor perbankan. Sampah yang dikumpulkan dan dijual akan dikonversi menjadi nilai ekonomi yang dibayarkan melalui rekening, sehingga benar-benar berfungsi sebagai tabungan bagi siswa maupun sekolah.

“PT Chandra Asri membiayai edukator dan evaluator yang selama enam bulan mendampingi sekolah. Mulai dari edukasi, pengawasan, hingga evaluasi pelaksanaan program,” jelasnya.
Selain memberikan dampak ekonomi, Kolase juga dinilai efektif sebagai sarana edukasi lingkungan secara masif. Pada tahap pertama, program ini tercatat telah mengedukasi sekitar 35.000 orang dengan total nilai sampah terkumpul mencapai Rp37 juta. Sementara pada tahap kedua yang tengah berjalan, sebanyak 2.568 orang telah teredukasi dengan nilai sampah mencapai Rp17 juta.
“Anak-anak belajar memilah sampah, bahkan orang tua ikut menitipkan sampah dari rumah. Ini membentuk budaya baru, tidak hanya di sekolah tetapi juga di lingkungan keluarga,” ungkap Sabri.
Program Kolase diterapkan mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA. Salah satu sekolah peserta, SMA Negeri 5 Cilegon, dalam satu kali penimbangan mampu mengumpulkan nilai sampah hingga Rp800 ribu, bahkan pada penimbangan sebelumnya menembus lebih dari Rp1 juta.
“Di beberapa sekolah, hasil pengumpulan dikelola per kelas. Ada yang merencanakan dananya untuk kegiatan bersama, bahkan ada yang menjadikannya sebagai sedekah sampah untuk membantu kebutuhan sekolah,” tuturnya.
Dengan capaian tersebut, DLH Kota Cilegon optimistis perluasan program ke 100 sekolah tambahan dapat direalisasikan pada tahun ini. Program Kolase diharapkan mampu melibatkan lebih banyak pelajar dalam praktik nyata pengelolaan sampah berkelanjutan.
“Harapannya, siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga merasakan langsung bahwa sampah bisa menjadi tabungan dan memberikan manfaat nyata,” tutup Sabri.(*/Feby)

Tidak ada komentar