
Cilegon, (Delik Asia) | Di tengah derasnya arus informasi digital, kepercayaan kerap menjadi celah yang dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab. Hal itulah yang terjadi dalam kasus dugaan penipuan berkedok lowongan kerja yang mencatut nama istri Wali Kota Cilegon, Alfi Rizki Aghnia Robinsar.

Peristiwa ini mencuat setelah seorang warga melaporkan langsung melalui pesan di media sosial. Modus yang digunakan terbilang rapi—memanfaatkan identitas publik figur untuk membangun keyakinan korban.
Kejadian tersebut diduga berlangsung di kawasan Cilegon Center Mall (CCM). Pelaku menawarkan pekerjaan sebagai petugas keamanan dan juru parkir, sembari mengatasnamakan Alfi untuk memperkuat legitimasi.
Awalnya, korban menerima pesan WhatsApp dari pelaku yang menggunakan foto Alfi sebagai profil. Tak berhenti di situ, pelaku juga menghubungi keluarga korban dan menawarkan peluang kerja serupa kepada anggota keluarga lainnya.

Tanpa verifikasi yang memadai, informasi itu dipercaya. Harapan akan pekerjaan pun berubah menjadi titik lemah yang dimanfaatkan pelaku.
“Tanpa melakukan verifikasi, keluarga korban mempercayai informasi itu,” ujar Alfi saat ditemui di kediamannya, Rabu (1/4/2026).
Selanjutnya, pelaku meminta sejumlah uang dengan dalih sebagai syarat awal agar posisi pekerjaan tidak direbut pihak lain. Dari keterangan korban, uang sebesar Rp450 ribu sempat ditransfer ke rekening yang diberikan.
Namun, setelah transaksi dilakukan, situasi berubah. Korban diminta datang ke lokasi di CCM, tetapi setibanya di sana, pelaku kembali menghubungi dan menyatakan proses tidak dapat dilanjutkan dengan berbagai alasan.
Di titik itulah, kesadaran muncul—harapan yang semula ditawarkan ternyata berujung pada penipuan.
Menanggapi kejadian tersebut, Alfi menegaskan bahwa dirinya tidak pernah membuka lowongan kerja, apalagi hingga meminta uang dalam bentuk apa pun.
“Saya tidak pernah bekerja sama dengan CCM terkait lowongan kerja, apalagi sampai meminta uang. Itu jelas bukan dari saya,” tegasnya.
Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada tawaran yang mengatasnamakan dirinya maupun pihak lain tanpa verifikasi yang jelas.
“Saya mengimbau masyarakat jangan mudah percaya, terutama jika ada permintaan uang di awal. Pastikan selalu melakukan verifikasi,” ujarnya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa di balik kemudahan akses informasi, kewaspadaan tetap menjadi benteng utama. Sebab, di ruang yang sama, harapan dan penipuan kerap berjalan beriringan.(*/FBY)

Tidak ada komentar