
CILEGON, (Delik Asia) | Upaya membangun kepedulian terhadap lingkungan sejak usia sekolah terus dilakukan di Kota Cilegon. Salah satunya melalui program KOLASE (Kolaborasi Kelola Sampah Ekonomi Sirkular di Sekolah) yang diterapkan di SDN Sumampir, Kota Cilegon.


Program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Yayasan Bhakti Barito dan PT Chandra Asri, dengan memberikan edukasi kepada peserta didik mengenai pentingnya memilah, mengelola, serta memanfaatkan sampah agar tidak langsung berakhir di tempat pembuangan.
Kegiatan penimbangan sampah dalam program KOLASE kembali dilaksanakan pada Rabu, 19 Agustus 2026. Dalam kegiatan tersebut, sampah yang berhasil dikumpulkan para siswa mencapai sekitar 200 hingga 300 kilogram, terdiri dari sampah plastik, kardus, dan berbagai jenis sampah lainnya.


Kepala Sekolah SDN Sumampir, R. Junaesih, S.Pd., mengatakan program tersebut memberikan edukasi nyata kepada siswa bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata masih memiliki nilai dan dapat dimanfaatkan kembali.

“Anak-anak kami diajak untuk memahami bahwa sampah yang seharusnya dibuang ternyata masih bisa dimanfaatkan menjadi hasil karya maupun barang yang tepat guna. Mereka juga belajar untuk tidak membuang sampah sembarangan,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, siswa didorong untuk membawa sampah dari rumah minimal satu kilogram setiap bulan untuk dikumpulkan di sekolah. Sampah tersebut kemudian ditimbang dan dicatat oleh pihak Yayasan Barito untuk selanjutnya dikonversi menjadi nilai uang.
Menariknya, hasil pengumpulan sampah tersebut dikelola melalui rekening kelas. Setiap kelas memiliki satu rekening yang digunakan untuk menampung hasil penjualan atau konversi sampah. Dana yang terkumpul selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan kelas.
Menurut R. Junaesih, konsep tersebut bukan hanya mengajarkan siswa mengenai kebersihan lingkungan, tetapi sekaligus memperkenalkan literasi keuangan dan ekonomi sirkular sejak dini.
“Alhamdulillah, dengan adanya kerja sama ini anak-anak menjadi lebih teredukasi untuk peduli terhadap sampah. Mereka belajar bahwa sampah bisa memiliki nilai ekonomi dan dapat digunakan kembali,” katanya.
Program KOLASE sendiri mengintegrasikan edukasi lingkungan, pengelolaan sampah, kolaborasi dengan berbagai pihak, serta literasi keuangan. Dengan demikian, siswa tidak hanya diajarkan untuk menjaga kebersihan sekolah, tetapi juga memahami bahwa sampah yang dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat ekonomi.
Sementara itu, Wali Kota Cilegon Robinsar menyambut baik berbagai program yang memberikan dampak positif bagi masyarakat dan dunia pendidikan. Ia juga menyinggung upaya pemerintah dalam mendorong efisiensi anggaran daerah sehingga anggaran dapat dialihkan untuk kebutuhan pembangunan dan pelayanan masyarakat yang lebih prioritas.

Terkait kebijakan mengenai tenaga pendidik, Robinsar mengatakan pemerintah daerah masih menunggu kepastian mekanisme dari pemerintah pusat, khususnya terkait pengelolaan dan pengangkatan tenaga P3K.
“Yang pasti, hak teman-teman P3K tetap kita selesaikan karena itu memang menjadi hak mereka. Kita masih menunggu mekanismenya seperti apa dari pemerintah pusat,” kata Robinsar.
Ia berharap apabila kebijakan tersebut nantinya dapat meringankan beban daerah, anggaran yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk program lain yang lebih dibutuhkan masyarakat, termasuk peningkatan kesejahteraan dan pelayanan publik.
Robinsar juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas dan performa para guru seiring dengan berbagai kebijakan peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik.
Program KOLASE di SDN Sumampir diharapkan dapat menjadi contoh bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari lingkungan sekolah dan keluarga. Dengan kebiasaan membawa, memilah, menimbang, hingga mengubah sampah menjadi nilai ekonomi, siswa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang lebih peduli lingkungan sekaligus memiliki pemahaman tentang literasi keuangan dan ekonomi sirkular.(*/FBY)

Tidak ada komentar