x

Zero Waste dari Garut: Upaya DLH dan Anak Muda Hadapi Krisis Sampah

waktu baca 2 menit
Rabu, 5 Nov 2025 14:32 0 40 Redaksi

Delik Asia, (Garut) | Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Garut mengajak masyarakat menyelesaikan persoalan sampah mulai dari sumbernya, yakni rumah tangga. Pesan itu disampaikan Kepala DLH Garut Jujun Juansyah Nurhakim dalam lokakarya bertajuk “Bersama Anak & Kaum Muda: Menanggulangi Sampah Menuju Garut Bersih dan Berkelanjutan” yang digelar Nexus3 Foundation di Ballroom Fave Hotel Garut, Senin (3/11/2025).

Jujun menegaskan, urusan sampah tidak bisa hanya diserahkan ke pemerintah. Semua pihak harus turun tangan, termasuk pesantren dan lembaga pendidikan. Salah satunya, Pesantren Welas Asih yang turut hadir dalam forum tersebut.

“Harapannya dari kegiatan ini muncul rekomendasi konkret yang bisa dijalankan dinas dan pembuat kebijakan. Tujuannya satu: Garut bersih dan berkelanjutan,” ujar Jujun.

Menurut Jujun, sampah seharusnya diselesaikan di tempat dan pada hari yang sama. Konsepnya, “sampah hari ini selesai hari ini”.

“Artinya, sampah tidak boleh menumpuk. Pengolahan bisa dilakukan langsung di sumbernya,” tegasnya.

DLH juga berkomitmen memperluas sosialisasi ke sekolah-sekolah agar konsep zero waste bisa diterapkan di lebih banyak lingkungan pendidikan. Jujun mengimbau warga lebih peduli dengan sampah rumah tangga, mulai dari memilah organik dan non-organik, hingga memanfaatkan TPS3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reduce-Reuse-Recycle) di tiap desa.

“Semua jenis sampah bisa diselesaikan di rumah atau di TPS3R. Jadi tidak ada yang terbengkalai,” tambahnya.

Program ini turut mendapat dukungan dari Kementerian Federal Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan Jerman (BMZ) serta Terre des Hommes Jerman.
Yune Eribowo, CHIME Program Manager dari Nexus3 Foundation, menilai anak-anak dan kaum muda memiliki peran penting dalam mengubah perilaku masyarakat terhadap lingkungan.

“Persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Anak-anak sebagai generasi muda harus tahu bagaimana memperlakukan lingkungan dengan benar,” kata Yune.

Ia berharap kebiasaan memilah dan mengelola sampah bisa ditanamkan sejak dini.

“Kalau mereka memulai dari diri sendiri, dampaknya akan jauh lebih besar,” ujarnya.

Salah satu peserta, Faiz Muhammad Syaiba Amin dari SMA Welas Asih, mengaku kegiatan ini membuka kesadarannya tentang pentingnya kerja sama dalam mengatasi persoalan lingkungan.

“Masalah lingkungan tidak bisa diselesaikan sendirian. Harus melibatkan semua pihak—pemerintah, warga, dan keluarga,” ujarnya.

Faiz juga mengajak teman-temannya untuk memulai dari langkah sederhana.

“Mulai dari memungut satu sampah setiap keluar dari kelas. Karena hal besar dimulai dari hal kecil,” katanya.[Yasin/Red]

Sumber: JPN

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x