x

Tekankan Pentingnya Employability Skill, UPER Dorong Sinergi Akademisi–Industri

waktu baca 6 menit
Jumat, 17 Okt 2025 14:36 0 59 Redaksi

Delik Asia, (Jakarta) | Dalam upaya mencapai ekonomi hijau dan Net Zero Emission 2060, Indonesia perlu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pengurangan emisi. Sektor industri menjadi motor utama ekonomi dengan kontribusi 18,67% terhadap PDB (BPS, 2023), namun juga menyumbang 36% emisi karbon nasional (IEA, 2024) dan lebih dari 60% limbah B3 (KLHK, 2025). Kondisi ini menegaskan urgensi penerapan praktik industri hijau untuk menekan emisi tanpa menurunkan produktivitas.

Menjawab tantangan tersebut, Universitas Pertamina (UPER) melalui Global GreenChem Innovation and Network Programme (GGINP) menyelenggarakan Green Chemistry for Industrial Excellence (GCIE) 2025 sebagai langkah konkret memperkuat praktik industri hijau dan inovasi berkelanjutan.Kegiatan ini menjadi ruang kolaboratif antara pelaku industri, pemerintah, dan akademis untuk mempercepat penerapan green chemistry, efisiensi sumber daya, serta teknologi rendah karbon. Melalui inisiatif ini, UPER menegaskan perannya sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya berfokus pada pengajaran, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap solusi nyata bagi transformasi industri menuju ekonomi hijau di Indonesia.

Komitmen terhadap transformasi tersebut turut ditegaskan oleh Dr. Sri Bimo Pratomo, S.T., M.Eng., Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian.

“Transformasi industri berkelanjutan kini menjadi urgensi nasional untuk mendukung tercapainya target pembangunan berkelanjutan. GGINP bukan sekadar forum pertukaran teknologi dan inovasi, tetapi juga langkah strategis untuk mendorong industri nasional menjadi lebih bertanggung jawab, tangguh, dan kompetitif secara global dengan memperkuat kebijakan carbon neutral dan penerapan green chemistry sebagai fondasi industri masa depan,” ujarnya.

Sementara itu, Erik Teguh Primiantoro, S.Hut., M.E.S., Staf Ahli Bidang Diplomasi Lingkungan KLHK, menekankan bahwa prinsip kimia hijau dapat menjadi reformasi menuju industri yang berkelanjutan dan inklusif.

“Peralihan metode konvensional menuju berkelanjutan efektif terhadap berbagai sisi. Penerapan kimia hijau dalam aktivitas industri dapat berupa efisiensi dalam penggunaan sumber daya alam, pengelolaan limbah yang benar, hingga mampu meningkatkan pendapatan industri,” tambah Erik.

Laporan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO, 2023) menunjukkan bahwa penerapan prinsip kimia hijau mampu menurunkan konsumsi energi hingga 30% dan emisi karbon hingga 40%. Sementara menurut World Bank (2023) dalam Green Industry and Circular Economy Outlook, industri yang mengadopsi praktik kimia hijau mencatat peningkatan Return on Investment (ROI) sebesar 10–20% dalam tiga hingga lima tahun. Temuan tersebut membuktikan bahwa keberlanjutan bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga strategi bisnis jangka panjang yang menguntungkan bagi industri nasional.

Kegiatan GCIE 2025 diikuti lebih dari 50 peserta lintas sektor, termasuk pelaku industri, pemerintah dan kementerian, akademisi serta pegiat lingkungan. Forum ini juga memperkuat jejaring internasional melalui kolaborasi dengan Yale University (Amerika Serikat) dan UNIDO dalam pengembangan program riset dan implementasi kimia hijau di Indonesia. Salah satu peserta dari industri kimia menyampaikan bahwa kegiatan ini membuka wawasan baru tentang potensi efisiensi bahan baku dan pengurangan limbah melalui pendekatan sains hijau.

Sebagai kampus yang berlokasi di jantung kawasan industri, Universitas Pertamina (UPER) turut berperan aktif dalam penerapan prinsip kimia hijau melalui berbagai aktivitas Tri Dharma Perguruan Tinggi, salah satunya lewat pengembangan program inkubasi bisnis berbasis inovasi berkelanjutan. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU., menjelaskan bahwa saat ini UPER tengah mempersiapkan peluncuran GreenLink Demo Day: Greenovate Accelerator yang akan digelar pada 25 Oktober 2025.

“Program ini merupakan wadah inkubasi bisnis yang mendorong pengembangan usaha berkelanjutan sekaligus membuka peluang kolaborasi bagi mahasiswa dan dosen sebagai kontributornya. Untuk memastikan pendampingan yang optimal, UPER berkolaborasi dengan UNIDO, Yale University, dan Kementerian Perindustrian dalam pengembangan program tersebut,” tutupnya

Tekankan Pentingnya Employability Skill, UPER Dorong Sinergi Akademisi–Industri

Jakarta – Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2023 mencatat tingkat pengangguran terbuka untuk lulusan universitas sebesar 5,18%. Dilain sisi lebih dari 50% lulusan juga bekerja di luar bidang studinya, menandakan adanya mismatch kompetensi. Sementara itu, dunia industri justru menghadapi kekurangan tenaga kerja di bidang strategis seperti digitalisasi, sustainability, rantai pasok, dan teknologi baru.

Kesenjangan ini mendorong Universitas Pertamina (UPER) menggelar Industrial Gathering bertema “Empowering Future Talent: Academia–Industry Collaboration in the Era of Disruption” di Auditorium UPER, Jumat (26/9). Acara ini dihadiri oleh Dr. Rosaria Mita Amalia (Presiden Indonesia Career Center Network/ICCN), Rinny Syafriadi (Koordinator Bidang Pembinaan Instruktur Swasta, Kemnaker), dan Abimanyu Suryadi (Manager HC Services PT Pertamina Hulu Energi), serta dipandu oleh Sari Widyanti, M.En., Dosen Teknik Geofisika UPER.

Dr. Rosaria Mita Amalia menekankan bahwa pentingnya penguatan soft skills dan employability skills agar lulusan lebih siap memasuki dunia kerja.

“Kurikulum di pendidikan tinggi harus berorientasi proyek untuk menguatkan keterampilan mahasiswa dalam persiapan berkarir. Serta pusat karir perlu aktif menjembatani mahasiswa dengan industri, dan tracer study harus dijadikan dasar perbaikan berkelanjutan. Mahasiswa tidak cukup hanya mengejar gelar, tetapi juga pengalaman praktis dan karier yang bermakna,” ujarnya.

Menambahkan perspektif dari sisi pemerintah, Rinny Syafriadi, Koordinator Bidang Pembinaan Instruktur Swasta Kementerian Ketenagakerjaan, menekankan pentingnya keterpaduan antara dunia pendidikan dan industri dalam menyiapkan SDM unggul.

“Kemnaker mendorong peningkatan kualitas SDM melalui 21 Balai Latihan Kerja (BLK) sebagai pusat pelatihan, serta merancang Peraturan Menteri tentang pemagangan mahasiswa. Namun hal tersebut juga harus didukung dengan kolaborasi dengan perguruan tinggi seperti UPER penting untuk memastikan keterampilan yang diajarkan sesuai dengan standar industri sehingga lulusan siap kerja dan mampu bersaing,” kata Rinny.

Pandangan ini sejalan dengan kebutuhan industri yang semakin selektif dalam mencari talenta. Abimanyu Suryadi, Manager HC Services PT Pertamina Hulu Energi, menjelaskan bahwa memasuki dunia kerja—terutama di sektor migas—tidak dapat mengandalkan keberuntungan semata, melainkan membutuhkan kesiapan dan strategi yang matang.

“Kandidat harus memahami etika kerja, kompetensi teknis, dan mampu beradaptasi dengan cepat. Inilah yang membedakan kandidat siap kerja dengan sekadar pencari kerja. Pertamina juga secara rutin membuka kesempatan bagi lulusan baru melalui Bimbingan Profesi Sarjana (BPS), magang kerja praktik, hingga rekrutmen bersama,” tegasnya.

Abimanyu menambahkan, sejumlah lulusan Universitas Pertamina menjadi contoh bagaimana peningkatan kompetensi dan pengalaman praktis dapat membuka peluang lebih besar untuk diterima di industri. Melalui pembekalan proyek bersama praktisi, riset kolaboratif, dan program magang terintegrasi, mahasiswa UPER dipersiapkan untuk memahami kebutuhan dunia kerja sejak dini.

Hasilnya, lebih dari 371 alumni Universitas Pertamina kini berkarier di Pertamina Group, termasuk melalui jalur Bimbingan Profesi Sarjana (BPS) dan program pengembangan profesional muda lainnya.

Universitas Pertamina melalui Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni, menghadirkan pusat karir yang menyediakan pelatihan, bimbingan karir, tracer study, serta menjembatani mahasiswa dan alumni dengan dunia kerja melalui campus recruitment, job fair (Industrial Career Expo–UPER), dan kemitraan dengan berbagai perusahaan.

Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU, menegaskan bahwa inisiatif tersebut menjadi bagian dari komitmen UPER menyiapkan lulusan berdaya saing global.

“UPER menyiapkan lulusan dengan keterampilan praktik dan kemampuan berpikir kritis. Puluhan mahasiswa mengikuti magang dan riset di berbagai fungsi strategis seperti Human Capital dan Upstream Innovation. Serapan lulusan yang terus meningkat menunjukkan kesiapan UPER dalam mencetak talenta sesuai kebutuhan industri energi,” ujar Prof. Wawan.[Red/UPER]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x