x

Sandiaga Uno di Universitas Paramadina: “Bonus Demografi Tak Bermakna Tanpa Bonus Inovasi dan Kolaborasi”

waktu baca 2 menit
Selasa, 14 Okt 2025 16:52 0 49 Redaksi

Delik Asia, (Jakarta) | Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2020–2024, Sandiaga Salahuddin Uno, menekankan pentingnya inovasi dan kolaborasi sebagai kunci pemanfaatan bonus demografi Indonesia. Hal itu ia sampaikan saat menjadi pembicara tunggal dalam forum Meet The Leaders yang diselenggarakan oleh Universitas Paramadina di Jakarta, Sabtu (11/10/2025).

Acara berlangsung di Auditorium Benny Subianto, Trinity Tower, Kampus Paramadina Kuningan. Forum dibuka oleh Ketua Umum Yayasan Wakaf Paramadina, Hendro Martowardojo, dan dimoderatori oleh akademisi Wijayanto Samirin.

Dalam paparannya, Sandiaga menyampaikan bahwa rasio wirausaha Indonesia masih rendah, yakni sekitar 3,5 persen, dan sebagian besar pelakunya terdorong oleh keadaan, bukan karena pilihan sadar.

“Banyak pelaku UMKM kita berwirausaha karena keterpaksaan. Padahal, kewirausahaan harus menjadi pilihan yang menarik dan dihormati,” ujar Sandiaga.

Ia menyebut, peningkatan jumlah wirausahawan akan memperkuat fondasi ekonomi nasional yang inklusif dan berkeadilan. Oleh karena itu, Sandiaga mendorong generasi muda untuk mengembangkan pola pikir wirausaha sejati dengan tiga landasan utama: inovatif, adaptif, dan kolaboratif.

“Inovasi berarti mampu melihat peluang dalam tantangan. Adaptasi membutuhkan keberanian untuk berubah. Kolaborasi adalah kekuatan untuk tumbuh bersama,” katanya.

Sandiaga juga mengingatkan bahwa bonus demografi hanya akan berdampak positif apabila didukung oleh “bonus inovasi dan kolaborasi”. Tanpa itu, potensi demografis justru bisa menjadi beban.

Lebih lanjut, ia memaparkan empat elemen ketahanan dalam menghadapi perubahan global yang cepat, yaitu sense (kepekaan), agility (ketangkasan), strive (semangat juang), serta kemampuan membangun bisnis yang tangguh dan fleksibel.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung peran kecerdasan buatan (AI) dalam mendongkrak produktivitas pelaku ekonomi kreatif. Ia menyebut penggunaan AI secara bijak dapat meningkatkan efisiensi hingga 40 persen, termasuk dalam pembuatan materi promosi.

“AI bisa menjadi katalis, tapi harus digunakan secara etis dan penuh tanggung jawab,” imbuhnya.

Sandiaga juga menyerukan pentingnya gerakan nasional mencintai produk lokal. Ia mencontohkan keberhasilan produk sepatu lokal Indonesia yang tampil di Paris Fashion Week sebagai bukti daya saing global.

“Kita bisa meniru semangat Korea Selatan—bangga memakai produk lokal dan aktif memberi masukan agar produk kita terus berkembang,” ujarnya.

Menutup sesi, Sandiaga mengingatkan bahwa bonus demografi bersifat sementara dan harus dikelola dengan tepat agar tidak berubah menjadi ancaman.

“Bonus demografi tidak bertahan selamanya. Jika tidak dikelola dengan baik, ia bisa berubah menjadi bencana,” ucapnya.

Ia menegaskan bahwa kewirausahaan dan penguatan keterampilan generasi muda merupakan kunci menuju visi Indonesia Emas 2045.

“Dengan inovasi, adaptasi, dan kolaborasi, kita bisa menuju kemakmuran bersama dan menjadikan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi global,” tutupnya.[Red/**]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x