
Tangerang, (Delik Asia) | Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang sukses mengeksekusi program hilirisasi industri berbasis pemanfaatan limbah sisa pembakaran batu bara (Fly Ash and Bottom Ash/FABA). Berawal dari inisiasi strategis antara Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, dengan Direksi PT PLN (Persero), Lapas Tangerang mengubah limbah menjadi material konstruksi bernilai ekonomi.

“Keunggulan utama dari produk ini terletak pada efisiensi biaya dan waktu konstruksi. Karena memanfaatkan limbah, harga jual produk Jawara Beton mampu ditekan hingga 10% lebih rendah dibanding harga konvensional di pasaran. Pada aspek pembangunan fisik, jika struktur rumah biasa memakan waktu 15 hingga 20 hari,” ujar Beni Hidayat, Kepala Lapas Kelas I Tangerang.
Guna menjamin daya saing di pasaran, Lapas Tangerang secara periodik sebulan sekali menguji kekuatan mekanis produknya di Laboratorium PT Wijaya Karya (WIKA) hingga sukses mengantongi standardisasi mutu beton K300 yang kokoh. Mutu komoditas ini telah menembus pasar properti nasional dengan diserap langsung oleh pengembang raksasa PT Summarecon Agung Tbk dan telah diimplementasikan dalam proyek pembangunan fisik perumahan Aparatur Sipil Negara (ASN) di wilayah Cikarang Barat dan Cikarang Pusat.
Program ini didukung oleh keterlibatan aktif 72 Warga Binaan yang telah melewati proses asesmen ketat dan pelatihan vokasional bersama instruktur dari PLTU, WIKA, serta HSP Akademi. Beni Hidayat menegaskan bahwa edukasi ini diharapkan menjadi pemantik (trigger) bagi mereka agar mampu memanfaatkan peluang ekonomi di lingkungan sekitar setelah bebas kelak. Lebih dari itu, pembinaan ini juga menjadi salah satu wujud implementasi 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyararakatan.

Sebagai apresiasi atas kerja keras mereka, Lapas Tangerang menerapkan sistem premi kerja yang adil, seperti upah Rp2.000,- per baki (tray) hasil produksi paving block.
Skema pencairannya dibagi secara proporsional demi masa depan Warga Binaan. “50% dapat diambil langsung untuk kebutuhan harian di dalam lapas, dan 50% sisanya otomatis disisihkan ke dalam tabungan Bank BRI sebagai modal memulai hidup baru,” kata Beni Hidayat.(*/FBY/RED)

Tidak ada komentar