x

Kisah Anak Penjual Ikan yang Viral, Kini Fokus Belajar di Sekolah Rakyat

waktu baca 2 menit
Senin, 29 Des 2025 09:42 0 38 Redaksi

Medan, (Delik Asia) | Dulu, Muhammad Risky Pratama (12) mengayuh sepeda puluhan kilometer di kawasan Bagan Deli, Medan, sambil mengangkut sekitar 30 kilogram ikan untuk dijual. Ember berisi ikan ia gantungkan di setang sepeda. Dari situlah ia belajar tentang kerasnya hidup, jauh sebelum seusianya semestinya memikirkan pelajaran sekolah.

Kini, kisah itu perlahan berubah. Risky duduk sebagai siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan, Sumatera Utara—sekolah gratis yang memberinya kesempatan kedua untuk belajar dan bermimpi.

Sebelum bersekolah di SRMP, Risky terbiasa membantu perekonomian keluarga dengan berjualan ikan. Ia mulai bekerja sejak kelas 6 sekolah dasar dan akhirnya terpaksa berhenti sekolah karena keterbatasan biaya.
“Bawanya pakai ember, ditaruh di setang sepeda,” ujar Risky, mengenang rutinitasnya.

Anak sulung dari empat bersaudara ini sejak kecil diasuh oleh Atuk—sebutan untuk kakek dan neneknya. Ibunya merantau ke Malaysia, lalu mencoba peruntungan di Batam. Ayahnya bekerja sebagai nelayan di Pantai Labu. Pertemuan dengan kedua orang tuanya pun menjadi hal yang jarang.

“Dari saya kelas 4 SD mama pergi ke Batam. Belum ada balik. Waktu itu pernah telepon, tapi cuma sekali saja. Kalau ayah, kadang habis melaut singgah ke rumah nenek,” tuturnya lirih, dengan mata berkaca-kaca.

Sang kakek sehari-hari mencari kerang di laut. Dalam sehari, hasil tangkapannya sekitar 20 kilogram, dijual ke tengkulak seharga Rp7.000 per kilogram. Dari lingkungan itulah Risky belajar bekerja tanpa banyak mengeluh.

Setiap hari sejak pukul 10.00 pagi, ia berkeliling menjajakan ikan selayang pulpen, selayang dungun, kurin, trisi, hingga cumi dan udang. Upah hariannya bisa mencapai Rp100 ribu. Jika dagangan tak habis, ikan akan dikembalikan kepada pemiliknya.

Perjuangan Risky sempat menjadi perhatian publik. Sebuah video yang merekam dirinya bersepeda sambil menjajakan ikan viral di media sosial. Respons warganet mengalir deras. Dari berbagai pihak, ia menerima bantuan hingga Rp100 juta—uang yang digunakannya untuk menyelesaikan pendidikan dasar dan menopang kebutuhan keluarga.

Namun tantangan belum selesai. Meski lulus SD, Risky belum lancar membaca dan berhitung. Di SRMP, ia perlahan mengejar ketertinggalan itu. Anak yang bercita-cita menjadi tentara ini kini bisa lebih fokus belajar.

Ia mengaku senang bersekolah di Sekolah Rakyat—program pendidikan yang digagas Presiden Prabowo Subianto.
“Di sini enak, senang. Sekarang sudah bisa lebih lancar (membaca), agak ngeja-ngeja sikit,” katanya, tersenyum.

Bagi Risky, SRMP bukan sekadar sekolah. Ia adalah pintu menuju masa depan yang dulu terasa terlalu jauh untuk digapai.[*/Feby/Red]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x