x

Kolaborasi RI-Turki: Edutolia Education Hadirkan Penulis Best Seller Rumi Therapy di Paramadina

waktu baca 2 menit
Sabtu, 4 Apr 2026 02:54 0 47 Redaksi

Jakarta, (Delik Asia) | Kolaborasi antara Edutolia Education dan Üsküdar University menghadirkan forum intelektual bertajuk “Rumi Therapy: Book Discussion & Signing” di Universitas Paramadina, Kamis (2/4/2026).

Kegiatan ini menjadi wadah pertukaran gagasan yang mempertemukan disiplin psikiatri modern, neurosains, serta nilai-nilai spiritual Islam dalam merespons dinamika kesehatan mental masa kini.

Acara tersebut menghadirkan langsung penulis buku Rumi Therapy, Nevzat Tarhan. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa ajaran sufistik Jalaluddin Rumi dapat dipahami secara ilmiah melalui pendekatan neurosains dan psikologi modern.

Menurut Tarhan, pemikiran Rumi memiliki relevansi kuat dalam membantu individu mengelola emosi sekaligus menemukan makna hidup, terutama di tengah tekanan dan perubahan cepat dunia modern.

Diskusi kian mendalam dengan kehadiran Mulyadhi Kartanegara dan Haidar Bagir. Keduanya menyoroti pentingnya keseimbangan antara rasionalitas dan spiritualitas sebagai fondasi kesehatan jiwa manusia kontemporer.

Sebagai penggagas kegiatan, Edutolia Education menegaskan perannya dalam menjembatani kolaborasi pendidikan lintas negara, khususnya antara Indonesia dan Turki. Organisasi ini juga berfungsi sebagai perwakilan resmi Üsküdar University di Indonesia yang aktif menginisiasi berbagai program akademik dan pertukaran intelektual.

CEO Edutolia Education, Ibrahim Albayrak, menyampaikan komitmennya untuk memperluas jejaring kerja sama pendidikan. Ia menekankan pentingnya membuka peluang kemitraan bagi institusi di Indonesia yang ingin terhubung dengan Üsküdar University.

Kolaborasi antara Universitas Paramadina, Penerbit Qaf, dan Edutolia dalam penyelenggaraan acara ini mencerminkan berkembangnya ekosistem diskursus intelektual di Indonesia, khususnya pada isu yang mengaitkan spiritualitas dengan kesehatan mental.

Melalui forum ini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan aspek klinis, tetapi juga memerlukan pendekatan yang lebih menyeluruh, termasuk dimensi spiritual sebagai bagian penting dalam mencapai keseimbangan hidup.(*/Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x