x

Kota Baja dan Waktu yang Berganti: Refleksi 2025, Asa 2026

waktu baca 3 menit
Rabu, 31 Des 2025 21:59 0 51 Redaksi

Oleh: Ir. Agus Mahyudin

Selamat tinggal 2025. Selamat datang 2026.
Kalimat itu hari ini membanjiri linimasa—status sederhana, namun sarat makna. Di balik rangkaian kata yang tampak ringan itu, tersimpan harapan besar. Terutama bagi warga Cilegon, yang merasakan betul bahwa 2025 bukanlah tahun yang mudah untuk dijalani.

“Tahun ini berat. Tidak edan saja sudah bagus.”
Kalimat itu terlontar ringan, nyaris seperti guyonan, saat obrolan mengalir di meja kopi. Ngopi santai di sudut-sudut coffee shop, membahas hidup, pekerjaan, dan kota yang dicintai. Tawa kecil menyertai, tapi kejujurannya terasa. Ada lelah yang dipendam, ada beban yang tak selalu punya ruang untuk diucapkan.

Cilegon, dengan denyut industrinya, memang tak pernah benar-benar berhenti. Mesin berputar, target mengejar, waktu terasa sempit. Hari-hari dihabiskan dalam ritme cepat yang menuntut tenaga dan pikiran. Di kota ini, bekerja keras adalah keniscayaan. Namun, beristirahat kerap menjadi kemewahan.

Di penghujung 2025, ada pemandangan yang membuat banyak warga sejenak terdiam—bukan karena lelah, melainkan takjub. Landmark kota dan taman di sekitarnya kini tampil berbeda. Lebih rapi, lebih indah, lebih hidup. Ruang-ruang publik yang dulu sekadar dilalui, kini menjadi tujuan. Menjelma titik temu, ruang tawa, dan tempat berbagi cerita.

Generasi milenial dan Gen-Z menjadikannya latar berswafoto, tempat bertukar senyum, dan merayakan kebersamaan. Sekilas, suasananya mengingatkan pada Bandung atau Yogyakarta—kota-kota yang dikenal dengan ruang publiknya yang ramah, bernapas, dan berjiwa.

Hadirnya ruang rekreasi semacam ini menghadirkan rasa baru bagi warga Cilegon. Tak perlu lagi pergi jauh hanya untuk sekadar “healing”. Cukup berjalan sore, duduk sebentar, berbincang ringan bersama keluarga atau sahabat. Menikmati kota sendiri, yang kini terasa lebih manusiawi—tidak melulu tentang baja, pabrik, dan produksi.

Dari ruang-ruang itu, harapan pun tumbuh. Harapan agar ke depan, Wali Kota dan Wakil Wali Kota terus menghadirkan lebih banyak ruang jeda bagi warganya. Masih banyak sudut kota yang bisa dipoles dan diberi kehidupan. Dari kawasan pegunungan hingga Situ Rawa Arum—potensi yang jika dirawat dengan sungguh-sungguh, dapat menjadi oase di tengah rutinitas industri yang padat.

Cilegon adalah kota industri. Ritmenya cepat. Tekanannya tinggi. Setiap hari warganya berpacu dengan target, mesin, dan waktu. Karena itulah, kota ini membutuhkan lebih banyak ruang untuk bernapas. Wisata lokal yang murah, meriah, dan ramah semua kalangan. Kebijakan yang terasa dekat, membumi, dan—meminjam ungkapan warga—pro rakyat banget.

Di ambang 2026, doa pun mengalir pelan namun penuh harap. Semoga para pemimpin kota tetap amanah dan istiqamah dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Bukan hanya menjaga pertumbuhan, tetapi juga merawat kebahagiaan warganya. Menjadikan Cilegon bukan semata kuat sebagai kota industri, melainkan hangat sebagai rumah.

Cilegon Juare—bukan sekadar slogan. Ia adalah harapan yang terus dijaga, dari tahun ke tahun.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x