
Caption : Ibu Ramah (70), warga Kampung Cipakis RT 002/004, Desa Tanjungjaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. (Foto : istimewah) Pandeglang Banten, (Delik Asia) | Di tengah gegap gempita berbagai program bantuan sosial yang terus digaungkan sebagai instrumen pengentasan kemiskinan, masih terselip ironi sunyi yang luput dari jangkauan perhatian. Di sebuah sudut sederhana di Kampung Cipakis RT 002/004, Desa Tanjungjaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, seorang perempuan renta bernama Ibu Ramah (70) menjalani hari-harinya dalam keterbatasan yang nyaris tak terperi.

Pada usia senja yang seharusnya diisi dengan ketenangan dan perhatian sosial, perempuan lanjut usia yang telah lama hidup menjanda itu justru harus bergulat keras demi memenuhi kebutuhan paling mendasar: memperoleh beras untuk menyambung hidup. Dalam sunyi perjuangannya, Ibu Ramah mengaku belum pernah sekalipun merasakan sentuhan bantuan dari program pemerintah, baik pusat maupun daerah.
Setiap hari, langkah tuanya menyusuri hutan demi mengumpulkan kayu bakar. Dari hasil menjual kayu itulah ia bertahan hidup, meski penghasilannya hanya berkisar dua ribu hingga lima ribu rupiah. Nilai yang nyaris tak cukup untuk membeli kebutuhan pokok, namun menjadi satu-satunya penopang kehidupan yang ia miliki.
Kenyataan pahit tersebut seakan menjadi cermin buram bagi berbagai narasi besar tentang pemerataan kesejahteraan yang selama ini dikampanyekan. Di balik angka-angka program dan laporan keberhasilan, masih ada warga yang hidup dalam kesunyian kemiskinan tanpa pernah tersentuh uluran negara.

Dengan mata berkaca-kaca, Ibu Ramah menyampaikan harapan sederhana yang selama bertahun-tahun hanya tersimpan dalam diam.
“Ya, saya sudah belasan tahun belum pernah dapat bantuan dari pemerintah. Harapan saya, tolong kepada pemerintah, saya juga ingin mendapatkan bantuan seperti yang lain,” tutur Ibu Ramah lirih kepada wartawan saat ditemui di kediamannya, Selasa (19/5/2026).
Kesaksian memilukan itu dibenarkan oleh Marsid, tokoh masyarakat setempat. Ia menuturkan bahwa selama ini Ibu Ramah memang tidak pernah tercatat sebagai penerima bantuan sosial apa pun.
“Ya benar Kang, beliau memang tidak pernah mendapatkan bantuan dari program pemerintah. Untuk makan sehari-hari kadang dibantu tetangga sekitar. Kemungkinan beliau juga tidak masuk dalam DTSEN (Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional),” ungkap Marsid.
Kondisi tersebut memantik keprihatinan warga sekitar yang mendesak pemerintah desa maupun instansi terkait agar segera melakukan evaluasi dan verifikasi ulang terhadap data penerima bantuan sosial. Warga berharap tidak ada lagi masyarakat kecil yang hidup dalam kemiskinan nyata justru tercecer dari pendataan administratif.
Hingga berita ini disampaikan ke meja redaksi, pihak Kasi Kesejahteraan Sosial Kecamatan Panimbang belum memberikan tanggapan resmi saat dikonfirmasi awak media terkait kondisi yang dialami Ibu Ramah.
Kini, publik menanti langkah konkret pemerintah agar prinsip keadilan sosial tidak berhenti sebagai slogan seremonial semata, melainkan benar-benar hadir menyentuh mereka yang paling membutuhkan. Sebab di balik megahnya berbagai program bantuan, masih ada suara lirih kaum kecil yang berharap negara tidak menutup mata terhadap penderitaan mereka.(*/RED)

Tidak ada komentar