x

Riung Mungpulung Warnai HUT ke-27 Cilegon, Medium Solidaritas Sosial Perkuat Kohesi Masyarakat

waktu baca 3 menit
Senin, 27 Apr 2026 23:03 0 16 Redaksi

Cilegon, (Delik Asia) | Di halaman Kantor Wali Kota, peringatan Hari Ulang Tahun ke-27 Kota Cilegon menjelma menjadi ruang refleksi kolektif yang sarat makna. Pemerintah Kota Cilegon menggelar Riung Mungpulung—sebuah tradisi yang merangkum nilai kebersamaan—yang dirangkaikan dengan pemberian penghargaan serta penyerahan bantuan secara simbolis oleh Wali Kota Robinsar, didampingi Wakil Wali Kota Fajar Hadi Prabowo, Senin, 27 April 2026.

Dalam suasana yang menggabungkan kehangatan tradisi dan kesadaran akan tanggung jawab publik, Robinsar mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memaknai hari jadi bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan sebagai momen kontemplasi atas jejak kontribusi yang telah ditorehkan bagi kota. Baginya, usia ke-27 merupakan titik evaluatif—sebuah jeda reflektif untuk menimbang capaian sekaligus merumuskan arah masa depan pembangunan yang lebih inklusif dan berkeadilan.

Ia menegaskan bahwa kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari pertumbuhan fisik, tetapi juga dari kualitas partisipasi warganya. Dalam kerangka itu, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia industri, serta para pemangku kepentingan menjadi fondasi utama yang tak tergantikan. Sinergi lintas sektor, menurutnya, adalah prasyarat bagi terciptanya pembangunan yang berkelanjutan dan berorientasi pada kesejahteraan.

Apresiasi juga disampaikan kepada seluruh tamu undangan dan pihak-pihak yang selama ini turut berkontribusi dalam perjalanan pembangunan Cilegon. Ia secara khusus menyoroti peran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah dan DPRD yang dinilai konsisten mendukung berbagai kebijakan strategis pemerintah daerah.

Di tengah semangat perayaan, Robinsar tidak menutup mata terhadap realitas tantangan yang dihadapi. Ia mengungkapkan bahwa pada awal masa kepemimpinannya, pemerintah daerah dihadapkan pada defisit anggaran sebesar Rp135 miliar. Namun, melalui konsolidasi internal dan kerja kolektif perangkat daerah, kondisi fiskal tersebut berhasil dipulihkan sehingga memasuki tahun 2026 tanpa bayang defisit.

Meski demikian, dinamika fiskal belum sepenuhnya mereda. Kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat yang berdampak pada pengurangan dana transfer sebesar Rp235 miliar menjadi tantangan baru yang menuntut respons adaptif. Dalam konteks ini, Robinsar menekankan pentingnya inovasi birokrasi serta kreativitas dalam menggali sumber-sumber pendapatan alternatif, termasuk melalui optimalisasi peran Badan Usaha Milik Daerah sebagai instrumen ekonomi strategis.

Pandangan serupa disampaikan oleh tokoh masyarakat, Habibudin, yang menilai bahwa penguatan BUMD—terutama PT Pelabuhan Cilegon Mandiri—memiliki potensi besar dalam mendorong peningkatan pendapatan daerah. Ia menyebut entitas tersebut sebagai aset kolektif yang perlu terus dikembangkan agar memberi manfaat optimal bagi masyarakat.

Di penghujung acara, optimisme pun mengemuka. Harapan disematkan pada kepemimpinan generasi muda yang kini mengemban amanah, agar mampu membawa Cilegon melangkah lebih jauh—bukan hanya sebagai kota industri, tetapi juga sebagai ruang hidup yang inklusif, berdaya, dan berkeadaban.

Riung Mungpulung tahun ini, pada akhirnya, tidak sekadar menjadi ritual tahunan. Ia hadir sebagai penanda bahwa di balik setiap perayaan, tersimpan panggilan untuk terus merawat ingatan, memperkuat kolaborasi, dan meneguhkan komitmen membangun masa depan bersama.(*/Feby)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x