x

Misteri Daratan Baru di Perairan Krakatau: Cucu Gunung Krakatau atau Sekedar Endapan?

waktu baca 3 menit
Kamis, 24 Sep 2026 14:40 0 20 Redaksi

Jakarta, (Delik Asia) | Kabar mengenai kemunculan daratan baru di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau sempat memicu kebingungan publik. Banyak yang berspekulasi apakah bumi Selat Sunda baru saja melahirkan sebuah gunung api baru yg kerap dijuluki “cucu Krakatau”.

Faktanya, daratan ini bukanlah gunung api independen, melainkan akumulasi material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yg mengendap di laut. Proses penumpukan ini berlangsung bertahap seiring meningkatnya aktivitas gunung tersebut, hingga akhirnya endapan menyembul ke permukaan air.

Terbentuknya daratan baru di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor geologis dan oseanografis. Dasar laut di area kaldera purba sisa letusan 1883 tersebut tergolong dangkal, sehingga material erupsi lebih cepat menumpuk tinggi.

Selain itu, lontaran piroklastik dan aliran lava selama erupsi memang dominan terlempar ke arah sektor tersebut. Dinamika arus serta gelombang laut Selat Sunda juga berperan penting sebagai pemindah sedimentasi yg membawa material erosi ringan ke titik-titik perairan yg lebih tenang hingga mengendap secara permanen.

Apakah daratan ini bisa membesar atau justru lenyap kembali? Jawabannya sangat bergantung pada pertarungan antara aktivitas vulkanik dan erosi alam. Jika Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi, pasokan material baru akan membuat daratan tersebut makin meluas. Ketahanannya akan makin kokoh apabila terlapisi lava cair yg membeku menjadi batuan keras.

Sebaliknya, jika erupsi terhenti, hantaman gelombang dan abrasi laut dapat mengikis endapan pasir yg belum padat hingga tenggelam kembali. Longsoran bawah laut atau erupsi eksplosif besar juga bisa menghancurkan struktur muda ini dlm waktu singkat.

Agar suatu daratan dapat dikategorikan sebagai gunung api baru yg berdiri sendiri, terdapat 3 syarat geologis utama yang harus dipenuhi. Pertama, daratan tersebut harus memiliki saluran magma mandiri yg terhubung langsung ke dapur magma melalui rekahan baru, terpisah dari kawah induknya. Kedua, daratan itu wajib menghasilkan aktivitas erupsi magmatik sendiri dengan memuntahkan magma atau gas dari kawahnya, bukan sekadar menampung muntahan dari gunung tetangga. Ketiga, harus terdapat struktur geologis serta deformasi sendiri, yaitu adanya aktivitas gempa vulkanik lokal atau pembengkakan tanah yg terpusat tepat di bawah daratan baru tersebut.

Menghadapi fenomena ini, masyarakat diimbau utk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu spekulatif yang beredar di media sosial. Kemunculan daratan baru ini adalah proses sedimentasi vulkanik yg lumrah di kawasan gunung api aktif.

Langkah paling bijak yg perlu dilakukan adalah selalu menyaring informasi melalui sumber resmi yg berwenang, seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Dengan memahami sains di balik fenomena ini, kita dapat tetap tenang, tidak panik, dan selalu mematuhi rekomendasi jarak aman yang ditetapkan oleh petugas di lapangan.(*/RED)

 

Oleh: Dr. DARYONO, edukator mitigasi bencana, anggota IABI

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x