x

BMKG Catat Gempa Tektonik M5,2 di Bima, Masyarakat Diimbau Tidak Panik

waktu baca 2 menit
Rabu, 20 Mei 2026 19:29 0 29 Redaksi

Jakarta, (Delik Asia) | Gempa bumi tektonik kembali mengguncang wilayah Bima, Nusa Tenggara Barat, pada Rabu (20/5/2026) pukul 17.28.50 WIB. Fenomena alam tersebut menjadi pengingat bahwa Indonesia berada di kawasan cincin api dunia yang memiliki dinamika tektonik sangat aktif, sehingga kesiapsiagaan dan literasi kebencanaan masyarakat menjadi hal yang sangat penting.

Berdasarkan hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut memiliki magnitudo M4,9 dengan episenter berada pada koordinat 8,14° Lintang Selatan dan 119,21° Bujur Timur, tepatnya di laut sekitar 12 kilometer arah timur Wera, Kabupaten Bima, pada kedalaman 12 kilometer.

BMKG menjelaskan bahwa gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas sesar naik belakang busur Flores. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan adanya pergerakan naik atau thrust fault yang memang kerap terjadi di kawasan tektonik aktif wilayah Nusa Tenggara.

Getaran gempa dilaporkan dirasakan di sejumlah daerah, meliputi Kota Bima, Kabupaten Bima, hingga Kabupaten Dompu dengan skala intensitas III MMI. Pada skala tersebut, getaran terasa nyata di dalam rumah dan menyerupai sensasi saat kendaraan berat melintas.

Meski menimbulkan kepanikan sesaat di tengah masyarakat, hasil pemodelan BMKG memastikan bahwa gempa bumi tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Hingga pukul 17.50 WIB, BMKG juga mencatat adanya satu kali gempa susulan atau aftershock pascagempa utama.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr. Wijayanto, S.T., M.Sc., menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat, khususnya di wilayah rawan gempa, dengan tetap mengedepankan sikap tenang, bijak, dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.

“Kewaspadaan masyarakat harus dibangun melalui pemahaman mitigasi kebencanaan yang baik serta kedisiplinan dalam mengikuti informasi resmi. Dalam situasi kebencanaan, ketenangan dan akurasi informasi menjadi kunci utama untuk meminimalisir kepanikan,” ujarnya.

BMKG juga mengimbau masyarakat agar hanya mengakses informasi resmi terkait aktivitas gempa bumi dan peringatan dini melalui kanal komunikasi resmi BMKG yang telah terverifikasi, baik melalui media sosial @infoBMKG, situs resmi BMKG dan InaTEWS, kanal Telegram InaTEWS_BMKG, maupun aplikasi mobile InfoBMKG dan WRS-BMKG.

Lebih dari sekadar peristiwa geologis, gempa bumi ini menjadi pengingat akan pentingnya membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat. Edukasi mitigasi, kesiapsiagaan lingkungan, serta ketepatan informasi menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi dinamika alam yang tidak dapat diprediksi.(*/RED)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x