x

IGIC 2026 Akan Digelar di Jakarta, Ketua VII PB PII Dorong Pemuda Terlibat dalam Diplomasi Keagamaan

waktu baca 3 menit
Kamis, 24 Sep 2026 08:50 0 10 Redaksi

Jakarta, (Delik Asia) | International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 akan digelar di Jakarta pada 25–28 September 2026 dengan mempertemukan para imam besar dari berbagai negara.

Forum internasional tersebut mengusung tema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace” dan diarahkan untuk membahas peran masjid serta tokoh agama dalam membangun perdamaian dan menjawab berbagai persoalan kemanusiaan global.

Kementerian Agama menyebut hingga 23 September 2026 telah terdata delegasi dari 39 negara yang akan mengikuti rangkaian IGIC. Selain para imam dan delegasi internasional, forum tersebut juga melibatkan unsur organisasi keagamaan, akademisi, aktivis perdamaian, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.

Menanggapi penyelenggaraan IGIC 2026, Ketua VII PB PII Bidang Hubungan Luar Negeri (HLN), Hery Yuanda, menilai forum tersebut menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat diplomasi keagamaan di tingkat internasional.

Menurut Hery, diplomasi keagamaan tidak hanya menjadi ruang bagi para ulama dan tokoh agama, tetapi juga perlu membuka ruang bagi generasi muda yang selama ini memiliki jejaring lintas negara.

“IGIC ini menarik, karena membawa isu masjid, diplomasi keagamaan dan perdamaian global dalam satu forum. Menurut saya, pemuda juga perlu diberikan ruang untuk ikut terlibat, karena generasi muda hari ini memiliki jejaring internasional yang cukup luas,” ujar Hery, kepada awak media, pada Kamis (24/9/2026).

Ia mengatakan keterlibatan pemuda dapat diarahkan pada pertukaran gagasan, penguatan jejaring organisasi, hingga pengembangan kerja sama antarpemuda dari berbagai negara.

Hery menilai organisasi kepemudaan Islam di Indonesia memiliki potensi untuk menjadi bagian dari ekosistem diplomasi keagamaan tersebut.

“Pemuda jangan hanya ditempatkan sebagai peserta atau penonton. Kalau diberikan ruang yang tepat, pemuda bisa menjadi penghubung antara gagasan para ulama dengan generasi muda di berbagai negara,” katanya.

Menurutnya, diplomasi keagamaan juga tidak berhenti pada forum konferensi, tetapi perlu diterjemahkan ke dalam kerja sama yang berkelanjutan, khususnya dalam isu perdamaian, pendidikan, kemanusiaan, lingkungan, dan pertukaran pemuda.

“Yang penting setelah forum nanti selesai, sukses terselenggara, ada jejaring yang terus berjalan. Misalnya pertukaran pemuda, diskusi lintas negara, program pendidikan, kegiatan kemanusiaan, sampai kerja sama antarorganisasi. Itu bisa menjadi bentuk konkret diplomasi keagamaan,” ujar Hery menjelaskan.

Hery berharap momentum IGIC 2026 juga dapat memperluas perspektif mengenai posisi pemuda dan pelajar islam dalam diplomasi keagamaan Indonesia.

Menurut dia, Indonesia memiliki modal sosial yang besar melalui organisasi kemasyarakatan Islam, lembaga pendidikan, pesantren, masjid, serta organisasi kepemudaan yang memiliki jaringan hingga tingkat internasional.

“Indonesia punya banyak organisasi dan anak muda yang aktif di berbagai negara. Ini sebenarnya bisa menjadi kekuatan diplomasi Indonesia. Tinggal bagaimana jejaring tersebut dipertemukan dengan agenda besar seperti diplomasi keagamaan,” katanya.

Ia juga menilai pertemuan antara imam besar, ulama, akademisi dan generasi muda dapat menghasilkan perspektif yang lebih luas mengenai tantangan dunia Islam dan isu kemanusiaan global.

Sementara itu, IGIC 2026 dijadwalkan berlangsung di sejumlah lokasi di Jakarta, termasuk Masjid Istiqlal, Hotel Bidakara, dan Hotel Grand Sahid.

Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan menghasilkan sejumlah gagasan bersama mengenai penguatan peran masjid dan tokoh agama dalam menciptakan perdamaian global, termasuk melalui forum International Grand Imam Forum dan penyusunan Jakarta Understanding.

Bagi Hery, penyelenggaraan forum internasional tersebut juga menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk menunjukkan bahwa diplomasi tidak hanya berlangsung melalui jalur formal antarpemerintah.

“Diplomasi keagamaan bisa menjadi jembatan ketika ada persoalan yang sulit diselesaikan hanya melalui pendekatan formal. Karena itu, keterlibatan ulama, masyarakat sipil dan pemuda perlu berjalan bersama,” pungkasnya.(*/AIN/RED)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x