x

Gejolak Timur Tengah Picu Kekhawatiran, Cadangan BBM RI Disorot

waktu baca 3 menit
Kamis, 26 Mar 2026 02:31 0 117 Redaksi

Jakarta, (Delik Asia) | Isu keterbatasan cadangan bahan bakar minyak (BBM) kembali mencuat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama di kawasan Timur Tengah. Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara, Samuel F. Silaen, menilai kondisi tersebut menunjukkan kerentanan struktural dalam ketahanan energi nasional.

Menurut Silaen, cadangan energi Indonesia yang berada di kisaran 21 hingga 26 hari masih tergolong rendah untuk negara dengan tingkat konsumsi besar. Ia menilai angka tersebut belum memadai untuk menghadapi potensi krisis energi global yang berkepanjangan.

“Secara administratif mungkin masih dianggap aman, tetapi secara strategis sangat rentan,” kata Silaen, Rabu (25/3/2026).

Ia menjelaskan, potensi gangguan pasokan global meningkat seiring memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Jalur distribusi vital seperti Selat Hormuz disebut menjadi titik krusial yang dapat memengaruhi stabilitas pasokan dan harga minyak dunia.

Ketergantungan Indonesia terhadap impor energi, menurut Silaen, menjadi persoalan utama. Saat ini, kebutuhan domestik masih ditopang impor sekitar 1 juta barel minyak mentah dan BBM per hari. Kondisi tersebut dinilai menciptakan kerentanan ganda, baik dari sisi suplai maupun harga.

“Ketika distribusi terganggu atau harga melonjak, dampaknya langsung terasa ke dalam negeri,” ujarnya.

Ia menambahkan, pasar minyak global saat ini sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik. Kenaikan harga minyak yang menembus di atas US$100 per barel menjadi indikator rapuhnya stabilitas energi global.

Silaen mengingatkan, dampak gangguan energi tidak hanya terbatas pada sektor energi, tetapi juga merembet ke sektor ekonomi lainnya. Kenaikan harga minyak berpotensi menekan subsidi, memicu inflasi, dan menurunkan daya beli masyarakat.

Selain itu, tingginya impor energi juga berpotensi menekan nilai tukar rupiah akibat meningkatnya kebutuhan devisa. Ia menilai dampak tersebut kerap luput dari perhatian publik.

Dalam analisisnya, Silaen menyebut Indonesia menghadapi paradoks ketahanan energi. Di satu sisi, diversifikasi impor telah dilakukan ke berbagai kawasan seperti Afrika dan Amerika Serikat. Namun di sisi lain, kapasitas cadangan domestik belum memadai untuk menghadapi gangguan pasokan jangka panjang.

Ia membandingkan kondisi Indonesia dengan Jepang yang memiliki cadangan strategis energi hingga lebih dari 100 hari. Perbedaan tersebut dinilai menunjukkan kesenjangan dalam kesiapsiagaan menghadapi krisis.

Lebih jauh, Silaen menilai energi kini telah menjadi instrumen strategis dalam geopolitik global. Negara-negara tertentu dapat memanfaatkan posisi geografis dan jalur distribusi untuk memengaruhi pasar dan menciptakan tekanan ekonomi.

“Energi bukan sekadar komoditas, tetapi alat geopolitik,” ujarnya.

Untuk itu, ia mendorong pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional melalui langkah konkret, seperti meningkatkan cadangan strategis hingga 60–90 hari, mempercepat diversifikasi energi, serta memperkuat infrastruktur kilang dan penyimpanan.

Silaen menegaskan, persoalan cadangan BBM tidak lagi bisa dipandang sebagai isu teknis semata, melainkan bagian dari kepentingan strategis negara.

“Ketahanan energi adalah bagian dari kedaulatan. Tanpa itu, stabilitas kita sangat dipengaruhi kondisi global,” katanya.(*/Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x