
Jakarta, (Delik Asia) | Pengamat militer dan intelijen, Soleman B. Ponto, menyoroti potensi pelemahan di tubuh Badan Intelijen Strategis TNI (BAIS TNI). Ia menilai, ancaman justru datang dari dalam, terutama terkait sistem pembinaan karier prajurit.

Menurut Soleman, BAIS sebagai instrumen strategis negara seharusnya berada di garis depan dalam membaca ancaman dan melakukan deteksi dini. Namun, ia melihat adanya pergeseran orientasi yang berdampak pada menurunnya ketajaman fungsi intelijen.
“Masalah BAIS bukan dari luar, tetapi dari dalam sistemnya sendiri, terutama soal struktur kepangkatan, pola promosi, dan usia pensiun,” ujar Soleman, yang juga mantan Kepala BAIS TNI periode 2011–2013, kepada JPN, Minggu (29/03/2026).
Soleman menjelaskan, jabatan perwira tinggi bintang tiga seperti Letjen, Laksdya, dan Marsdya tidak lepas dari jalur menuju posisi puncak TNI, yakni KSAD, KSAL, dan KSAU.

Akibatnya, jabatan strategis—termasuk di BAIS—tidak sepenuhnya berbasis profesionalisme intelijen, melainkan menjadi bagian dari konfigurasi karier menuju pucuk pimpinan.
“Orientasi jabatan berubah, tidak lagi murni kebutuhan intelijen, tapi bagian dari mekanisme seleksi kepemimpinan,” katanya.
Ia menilai, profesionalisme justru berada pada level perwira bintang dua. Pada jenjang ini, para perwira aktif membangun rekam jejak, menunjukkan kapasitas, dan bersaing menuju level berikutnya.
“Di sinilah analisis tajam, operasi yang hidup, dan inovasi berkembang. Mereka jadi tulang punggung intelijen,” ungkapnya.
Soleman juga menyoroti penumpukan perwira di level kolonel. Ia menyebut fase ini sebagai titik paling produktif dalam karier militer, dengan kombinasi pengalaman, fisik prima, dan keberanian operasional.
Namun, banyak kolonel justru mengalami stagnasi karier.
“Kolonel itu paling kuat, tapi banyak yang terhenti dan tidak jelas arah kariernya. Ini berbahaya,” tegasnya.
Menurutnya, potensi besar yang tidak tersalurkan dapat memicu masalah struktural di dalam organisasi.
“Kalau kemampuan tinggi tidak punya kanal resmi, bisa muncul frustrasi, konflik kepentingan, bahkan potensi disrupsi,” ujarnya.
Dalam konteks intelijen, kondisi ini berisiko membuat negara kehilangan operator terbaik saat berada di puncak kemampuan.
Soleman juga menyoroti sistem usia pensiun yang dinilai memengaruhi orientasi perwira tinggi. Perpanjangan masa dinas seiring kenaikan pangkat dinilai mendorong fokus bergeser dari operasi ke jabatan.
“Orientasi berubah dari operasi ke promosi. Ini rasional karena pangkat menentukan masa dinas,” katanya.
Ia menambahkan, terbatasnya perwira berlatar belakang intelijen di level bintang tiga memicu pendekatan pragmatis dalam penempatan jabatan.
“Akhirnya muncul anggapan siapa saja bisa. Secara struktur mungkin, tapi hasilnya belum tentu optimal,” ujarnya.
Dengan berbagai persoalan tersebut, Soleman menilai BAIS berisiko kehilangan daya gigit sebagai lembaga intelijen strategis.
“Operasi tetap ada, laporan tetap jalan, tapi ketajamannya hilang. Ini yang berbahaya,” tegasnya.
Ia menutup dengan peringatan bahwa ancaman terbesar bagi BAIS justru berasal dari dalam.
“Kalau orientasi bergeser dari tugas ke jabatan, intelijen hanya jadi rutinitas administratif, bukan lagi alat keunggulan strategis negara,” pungkasnya.(*/Red)

Tidak ada komentar