x

Eks KaBAIS Buka-bukaan: Energi Besar di Tubuh TNI Berpotensi Jadi Risiko

waktu baca 3 menit
Minggu, 29 Mar 2026 21:26 0 85 Redaksi

Jakarta, (Delik Asia) | Pengamat militer dan intelijen, Soleman B. Ponto, menyoroti potensi pelemahan di tubuh Badan Intelijen Strategis TNI (BAIS TNI). Ia menilai, ancaman justru datang dari dalam, terutama terkait sistem pembinaan karier prajurit.

Menurut Soleman, BAIS sebagai instrumen strategis negara seharusnya berada di garis depan dalam membaca ancaman dan melakukan deteksi dini. Namun, ia melihat adanya pergeseran orientasi yang berdampak pada menurunnya ketajaman fungsi intelijen.

“Masalah BAIS bukan dari luar, tetapi dari dalam sistemnya sendiri, terutama soal struktur kepangkatan, pola promosi, dan usia pensiun,” ujar Soleman, yang juga mantan Kepala BAIS TNI periode 2011–2013, kepada JPN, Minggu (29/03/2026).

Jabatan Bintang Tiga dan Arah Karier

Soleman menjelaskan, jabatan perwira tinggi bintang tiga seperti Letjen, Laksdya, dan Marsdya tidak lepas dari jalur menuju posisi puncak TNI, yakni KSAD, KSAL, dan KSAU.

Akibatnya, jabatan strategis—termasuk di BAIS—tidak sepenuhnya berbasis profesionalisme intelijen, melainkan menjadi bagian dari konfigurasi karier menuju pucuk pimpinan.

“Orientasi jabatan berubah, tidak lagi murni kebutuhan intelijen, tapi bagian dari mekanisme seleksi kepemimpinan,” katanya.

Bintang Dua Jadi Tulang Punggung

Ia menilai, profesionalisme justru berada pada level perwira bintang dua. Pada jenjang ini, para perwira aktif membangun rekam jejak, menunjukkan kapasitas, dan bersaing menuju level berikutnya.

“Di sinilah analisis tajam, operasi yang hidup, dan inovasi berkembang. Mereka jadi tulang punggung intelijen,” ungkapnya.

Penumpukan Kolonel Jadi Sorotan

Soleman juga menyoroti penumpukan perwira di level kolonel. Ia menyebut fase ini sebagai titik paling produktif dalam karier militer, dengan kombinasi pengalaman, fisik prima, dan keberanian operasional.

Namun, banyak kolonel justru mengalami stagnasi karier.

“Kolonel itu paling kuat, tapi banyak yang terhenti dan tidak jelas arah kariernya. Ini berbahaya,” tegasnya.

Risiko Energi Tak Tersalurkan

Menurutnya, potensi besar yang tidak tersalurkan dapat memicu masalah struktural di dalam organisasi.

“Kalau kemampuan tinggi tidak punya kanal resmi, bisa muncul frustrasi, konflik kepentingan, bahkan potensi disrupsi,” ujarnya.

Dalam konteks intelijen, kondisi ini berisiko membuat negara kehilangan operator terbaik saat berada di puncak kemampuan.

Dampak Sistem Pensiun

Soleman juga menyoroti sistem usia pensiun yang dinilai memengaruhi orientasi perwira tinggi. Perpanjangan masa dinas seiring kenaikan pangkat dinilai mendorong fokus bergeser dari operasi ke jabatan.

“Orientasi berubah dari operasi ke promosi. Ini rasional karena pangkat menentukan masa dinas,” katanya.

Minim Spesialis di Level Puncak

Ia menambahkan, terbatasnya perwira berlatar belakang intelijen di level bintang tiga memicu pendekatan pragmatis dalam penempatan jabatan.

“Akhirnya muncul anggapan siapa saja bisa. Secara struktur mungkin, tapi hasilnya belum tentu optimal,” ujarnya.

Risiko Kehilangan Daya Gigit

Dengan berbagai persoalan tersebut, Soleman menilai BAIS berisiko kehilangan daya gigit sebagai lembaga intelijen strategis.

“Operasi tetap ada, laporan tetap jalan, tapi ketajamannya hilang. Ini yang berbahaya,” tegasnya.

Ia menutup dengan peringatan bahwa ancaman terbesar bagi BAIS justru berasal dari dalam.

“Kalau orientasi bergeser dari tugas ke jabatan, intelijen hanya jadi rutinitas administratif, bukan lagi alat keunggulan strategis negara,” pungkasnya.(*/Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x