
Direktur Kawasan Asia Afrika Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat Jakarta, (Delik Asia) | Tiongkok kembali menegaskan posisinya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan inovasi global melalui penyelenggaraan Konferensi Produktivitas Kualitas Baru dan Pengembangan Berkualitas Tinggi untuk Makanan, Obat-obatan, Peralatan Medis, dan Kosmetik Tahun 2026 yang akan berlangsung di Sanya, Provinsi Hainan, pada 8–11 Mei 2026.

Dalam forum internasional bergengsi tersebut, Direktur Kawasan Asia Afrika Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat yang juga Dosen Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun, Dr. Yanuardi Syukur, mendapat undangan resmi untuk hadir dan berpartisipasi sebagai salah satu akademisi dari Indonesia.
Konferensi yang diselenggarakan oleh Asosiasi Promosi Kualitas dan Keamanan Perusahaan Makanan dan Obat-obatan Tiongkok itu mengangkat tema besar “Pemberdayaan Penutupan Bea Cukai, Kepemimpinan Teknologi, Keamanan dan Efisiensi, Berbagi Ekologis”, sebuah gagasan yang merefleksikan arah baru pembangunan industri global berbasis inovasi, efisiensi, serta keberlanjutan.
Pemilihan Hainan sebagai lokasi konferensi dinilai sangat strategis. Pulau yang dikenal luas sebagai “Hawaii-nya Tiongkok” tersebut kini tengah bertransformasi menjadi kawasan perdagangan bebas terbesar di dunia sekaligus episentrum baru pertumbuhan ekonomi Asia.

Sejak akhir 2025, seluruh Pulau Hainan resmi ditetapkan sebagai kawasan bea cukai khusus. Kebijakan itu memungkinkan barang-barang dari luar negeri masuk ke Hainan tanpa dikenai bea impor, sehingga menciptakan ekosistem perdagangan yang lebih terbuka, kompetitif, dan efisien. Di sisi lain, distribusi barang dari Hainan menuju daratan utama Tiongkok tetap berada dalam pengawasan sistem pemeriksaan standar nasional.
Transformasi besar tersebut menjadikan Hainan sebagai magnet baru investasi internasional. Dalam waktu relatif singkat, ratusan ribu perusahaan baru tumbuh di kawasan itu, sementara arus wisatawan mancanegara terus meningkat secara signifikan.
Tak mengherankan apabila konferensi internasional mengenai pengembangan industri makanan, obat-obatan, peralatan medis, dan kosmetik berkualitas tinggi diselenggarakan di wilayah ini. Hainan kini dipandang sebagai laboratorium hidup bagi masa depan ekonomi global yang bertumpu pada inovasi, teknologi, dan kolaborasi lintas negara.
Lebih dari 1.000 peserta dari berbagai negara dijadwalkan hadir, mulai dari akademisi, peneliti, pakar industri, regulator, hingga pimpinan perusahaan internasional.
Dalam forum tersebut, Dr. Yanuardi Syukur dijadwalkan mengikuti secara khusus Forum Paralel Cabang Industri Budaya Kesehatan Makanan dan Obat, yang juga menjadi bagian dari Forum Kerja Sama Internasional untuk Perusahaan Go Global serta Seminar Model Inovasi Asosiasi Bisnis.
Kehadiran Yanuardi diharapkan mampu menghadirkan perspektif antropologi sosial dan kebudayaan dalam pengembangan industri kesehatan dan pangan global, terutama dalam melihat relasi antara inovasi industri, nilai budaya, dan dinamika masyarakat dunia kontemporer.
Sebagai akademisi, Dr. Yanuardi memiliki rekam jejak pendidikan dan pengalaman internasional yang luas. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana Antropologi di Universitas Hasanuddin, meraih gelar Magister Politik dan Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia dengan predikat cumlaude pada 2010, serta menyelesaikan program doktor Antropologi di Universitas Indonesia dengan predikat cumlaude pada 2025.
Selain aktif mengajar di Universitas Khairun, ia pernah menjadi guru di SMA Muhammadiyah Tobelo, dosen di Universitas Halmahera, peneliti di Negeri Rempah Foundation, CSPS SKSG UI, dan IMERC SKSG UI. Saat ini, ia juga tercatat sebagai research fellow di INTI International University, Malaysia.
Pengalaman internasionalnya mencerminkan kiprah intelektual yang kuat dalam bidang diplomasi budaya dan hubungan global. Ia pernah mengikuti program U.S. Professional Fellow di Washington DC, Pittsburgh, dan New York, Amerika Serikat pada 2019, mengikuti Australian Awards Short Course mengenai Kebijakan Luar Negeri Indo-Pasifik di Griffith University Australia pada 2023, serta terlibat dalam kunjungan masyarakat sipil Indonesia ke Ukraina pada tahun yang sama.
Pada 2024, ia memimpin Diplomasi Budaya Jalur Rempah di Cape Town, Afrika Selatan, sekaligus menjadi pembicara di sejumlah kampus dan forum media di kota tersebut.
Yanuardi juga kerap tampil sebagai pembicara dalam berbagai konferensi internasional di antaranya di University of Malaya, Le Havre University, George Washington University, MGIMO University, hingga Chinese University of Hong Kong. Di ruang publik nasional dan internasional, ia aktif menjadi narasumber di CNN Indonesia, TVOne, China Daily, dan Benar News.
Dalam bidang literasi dan kepenulisan, kontribusinya pun sangat produktif. Pada 2018, ia menjadi Ketua Tim Penulis buku Kisah Negeri-Negeri di Bawah Angin yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Tales of the Lands Beneath the Winds: Tracing the Indonesia Archipelago’s Maritime Role in the History of the Spice Trade. Menurut Negeri Rempah Foundation, buku tersebut telah menjangkau pembaca di berbagai negara seperti Spanyol, Swedia, Tiongkok, India, Thailand, hingga Selandia Baru.
Belakangan, akademisi yang pernah menerima penghargaan sebagai Penulis Produktif dari Penerbit Lepkhair itu juga menyelesaikan dua buku terbaru bertema pengembangan kawasan timur Indonesia, yakni Dari Moloku Kie Raha ke Pasar Dunia: Mengembangkan Ekonomi Syariah di Maluku Utara serta Ekonomi Kreatif di Kota Ternate.
Tak hanya itu, sejak 2026 ia turut menginisiasi dan mengedit sejumlah buku berbahasa Inggris berwawasan global, di antaranya ASEAN Digital Future: Strengthening Collaboration for Digital Moderation, AI Ethics, and Socio-Cultural Innovation dan Toward Just Climate Resilience: Ecological Vulnerabilities, Social Capital, and Policy Transformation.
Menurut Dr. Yanuardi, undangan menghadiri konferensi internasional di Hainan merupakan kesempatan penting untuk melihat secara langsung perkembangan ekonomi dan industri kawasan Asia sekaligus memperkuat integrasi ilmu sosial dalam pembangunan industri global modern.
“Saya berharap dapat membawa perspektif antropologi budaya dan kebijakan publik dari Indonesia, sekaligus membangun kerja sama internasional yang bermanfaat bagi pengembangan industri makanan, obat-obatan, kosmetik, dan berbagai sektor strategis lainnya dalam konteks dunia global yang terus berubah,” ujarnya.
Ketua Umum SMSI Pusat, Firdaus, turut menyambut positif partisipasi tersebut. Ia berharap kehadiran Dr. Yanuardi dalam forum internasional itu dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara SMSI dengan berbagai institusi global di masa mendatang.
Di lingkungan SMSI sendiri, Yanuardi dikenal aktif dalam berbagai kerja strategis organisasi. Ia pernah menjadi Sekretaris Tim Pengkaji Kedaulatan Digital serta Wakil Sekretaris Tim Riset Sejarah perjalanan hidup Margono Djojohadikoesoemo, tokoh nasional yang juga kakek Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.(*/Red)

Tidak ada komentar