x

Dari Lensa Jadi Warisan! Taman Safari Bawa Biodiversitas Indonesia Mendunia Lewat IAPVC 2026

waktu baca 3 menit
Senin, 25 Mei 2026 08:59 0 58 Redaksi

Jakarta, (Delik Asia) | Ajang International Animal Photo and Video Competition (IAPVC) 2026 yang diselenggarakan oleh Taman Safari Indonesia kini telah bertransformasi melampaui sekadar kompetisi fotografi satwa liar. Memasuki penyelenggaraan ke-35, IAPVC tumbuh sebagai gerakan konservasi biodiversitas yang memadukan kekuatan seni visual, edukasi lingkungan, dan diplomasi budaya untuk memperkenalkan kekayaan hayati Indonesia kepada dunia internasional.

Mengusung tema “From Lens to Legacy”, IAPVC 2026 menghadirkan karya visual sebagai medium reflektif yang tidak hanya merekam keindahan satwa liar, tetapi juga menanamkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga keberlangsungan ekosistem dan kelestarian spesies endemik Indonesia. Kompetisi ini menjadi ruang kreatif yang menghubungkan estetika fotografi dengan tanggung jawab ekologis demi membangun warisan lingkungan bagi generasi mendatang.

Board of Advisory Taman Safari Indonesia, Agus Santoso, menegaskan bahwa setiap karya yang dihasilkan melalui lensa kamera sejatinya memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan kemanusiaan dan konservasi kepada masyarakat luas.

“Tahun ini kami mengangkat tema From Lens To Legacy. Kami ingin mengajak publik memahami bahwa karya visual bukan sekadar menangkap momen, tetapi juga menghadirkan cerita, membangun kesadaran, dan meninggalkan nilai warisan yang bermakna bagi masa depan,” ujar Agus Santoso dalam peluncuran IAPVC 2026 di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Menurut Agus, selama lebih dari tiga dekade penyelenggaraannya, IAPVC telah memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan gerakan konservasi di Indonesia. Ribuan karya foto dan video satwa liar yang lahir dari tangan para peserta menjadi representasi visual atas kekayaan biodiversitas nusantara yang selama ini menjadi salah satu identitas penting Indonesia di mata dunia.

Pada pelaksanaan tahun ini, panitia juga menggandeng Wild Captain International untuk membangun kolaborasi lintas negara yang bertujuan memperluas pertukaran gagasan, inspirasi, dan semangat konservasi di tingkat global. Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi langkah strategis dalam memperkenalkan biodiversitas Indonesia kepada komunitas fotografi internasional dan para pecinta alam dunia.

Lebih dari sekadar ajang kompetisi, IAPVC juga membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi generasi muda agar terlibat aktif dalam gerakan pelestarian lingkungan melalui karya kreatif dan pendekatan digital. Melalui medium visual, generasi muda didorong menjadi storyteller, content creator, sekaligus agen perubahan yang memiliki kepedulian terhadap masa depan bumi.

“Kompetisi ini bukan hanya tentang memenangkan perlombaan, melainkan bagaimana karya visual mampu menjadi suara konservasi yang menginspirasi masyarakat, khususnya anak muda, untuk mencintai dan menjaga alam,” lanjut Agus.

Meningkatnya jumlah peserta dari tahun ke tahun turut mencerminkan tumbuhnya minat masyarakat terhadap fotografi satwa liar dan meningkatnya kesadaran publik terhadap isu konservasi lingkungan. Ragam objek satwa yang diabadikan pun semakin luas, memperlihatkan besarnya potensi biodiversitas Indonesia yang terus menarik perhatian komunitas visual dunia.

Pada IAPVC 2026, cakupan kompetisi diperluas hingga kawasan Asia Tenggara dan Australia. Langkah tersebut semakin mempertegas posisi IAPVC sebagai salah satu kompetisi visual satwa liar berskala internasional yang berkembang progresif dan memiliki kontribusi penting dalam membangun kampanye konservasi global.

Selain menghadirkan sembilan kategori lomba fotografi dan video satwa liar, Taman Safari Indonesia juga meresmikan Komunitas Fotographer IAPVC sebagai wadah kolaboratif bagi para pecinta fotografi alam dan satwa untuk berbagi pengalaman, memperluas jejaring, serta memperkuat gerakan edukasi konservasi melalui karya visual yang inspiratif.

Dalam kesempatan yang sama, Taman Safari Indonesia turut mengumumkan bahwa bayi panda bernama Satrio Wiratama yang lahir di Taman Safari Indonesia Cisarua akan diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat pada 30 Mei 2026 di Istana Panda TSI Cisarua. Kehadiran bayi panda tersebut diharapkan menjadi simbol harapan baru dalam memperkuat edukasi pelestarian satwa langka kepada masyarakat, khususnya generasi muda Indonesia, agar semakin memiliki kesadaran ekologis dan kecintaan terhadap warisan alam bangsa.(*/RED)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x