x

Azhari Idris Tinggalkan SKK Migas Kalsul, Publik Soroti Warisan Programnya

waktu baca 3 menit
Minggu, 17 Mei 2026 15:24 0 10 Redaksi

Balikpapan, (Delik Asia) | Perjalanan panjang pengabdian di sektor energi nasional menempatkan nama Azhari Idris sebagai salah satu figur yang tidak hanya bekerja membangun industri, tetapi juga menanamkan jejak dedikasi bagi masa depan sumber daya manusia di Kalimantan Timur. Suasana haru dan penuh penghormatan pun mewarnai acara perpisahan dirinya yang resmi mengakhiri masa tugas setelah lebih dari dua dekade mengabdi di industri hulu migas Indonesia.

Acara pelepasan tersebut berlangsung hangat dan penuh nuansa kekeluargaan di Café Lim Kok Tong Kopi Tiam, Balikpapan Baru, Jumat (15/05/2026). Hadir dalam kesempatan itu insan media, rekan kerja, serta sejumlah mitra strategis industri migas Kalimantan Timur yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya.

Dalam suasana yang sarat emosional, Azhari Idris mengungkapkan bahwa Kalimantan Timur memiliki tempat istimewa dalam perjalanan hidupnya. Bagi dirinya, daerah tersebut bukan sekadar lokasi penugasan profesional, melainkan ruang pengabdian yang menyatu dengan perjalanan keluarga dan nilai-nilai kehidupan yang ia bangun selama bertahun-tahun.

“Saya punya kesan luar biasa. Daerah ini tidak akan pernah saya lupakan,” ujarnya dengan nada penuh haru.

Jejak karier Azhari di Balikpapan bermula pada tahun 2001 saat bergabung bersama Unocal Indonesia. Pengalaman penugasan di Jakarta dan Aceh semakin memperkaya kapasitas kepemimpinannya hingga akhirnya kembali dipercaya mengemban amanah memimpin SKK Migas Kalsul pada tahun 2021.

Di bawah kepemimpinannya, SKK Migas Kalsul tidak hanya berfokus pada aspek produksi energi semata, tetapi juga mendorong tumbuhnya partisipasi daerah dalam tata kelola industri strategis nasional. Azhari dikenal aktif membuka ruang keterlibatan perusahaan daerah dan BUMD agar dapat mengambil peran lebih besar dalam pengelolaan sektor hulu migas.

Menurutnya, daerah penghasil energi semestinya tidak hanya menjadi penonton di tengah besarnya potensi sumber daya alam yang dimiliki, melainkan turut memperoleh manfaat ekonomi melalui partisipasi nyata dalam rantai industri migas nasional. Karena itu, berbagai bentuk pendampingan terhadap BUMD terus dilakukan agar mampu meningkatkan kapasitas dan daya saing dalam proyek-proyek migas di Kalimantan Timur.

Namun lebih dari sekadar pembangunan industri, perhatian terbesar Azhari justru tertuju pada pembangunan kualitas manusia daerah. Salah satu program yang paling mendapat apresiasi selama kepemimpinannya ialah pelatihan las industri bagi putra-putri daerah dari keluarga kurang mampu.

Melalui program tersebut, puluhan peserta secara rutin diberangkatkan ke Batam untuk memperoleh pelatihan dan sertifikasi industri berskala profesional. Hasilnya, sebagian besar peserta mampu terserap langsung ke dunia kerja, bahkan beberapa di antaranya berhasil direkrut perusahaan internasional di Singapura.

“Hampir seratus persen langsung terserap kerja. Bahkan ada yang direkrut perusahaan di Singapura. Kita ingin anak daerah menjadi profesional dan pemimpin industri masa depan,” tegasnya.

Bagi Azhari, investasi terbesar sebuah daerah bukan semata pada eksploitasi sumber daya alam, melainkan pada pembangunan sumber daya manusia yang unggul, terampil, dan memiliki daya saing global. Pandangan tersebut menjadi fondasi utama dalam berbagai program pemberdayaan yang ia dorong selama memimpin.

Menjelang akhir masa pengabdiannya, Azhari juga menyampaikan optimisme terhadap masa depan industri migas Kalimantan Timur. Ia menilai penemuan cadangan migas baru di wilayah Selat Makassar menjadi pertanda positif bagi kebangkitan produksi energi nasional yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami tantangan penurunan produksi.

Karena itu, ia berharap seluruh elemen masyarakat, termasuk media massa, dapat terus menjaga stabilitas dan iklim investasi yang sehat demi keberlanjutan industri energi nasional di daerah.

Tongkat estafet kepemimpinan selanjutnya akan diteruskan oleh Haryanto Safri yang sebelumnya bertugas di wilayah Papua dan Maluku. Dengan penuh keyakinan, Azhari percaya kepemimpinan baru akan mampu membawa kemajuan yang lebih besar bagi industri migas Kalimantan Timur.

“Saya percaya beliau bisa berbuat lebih baik lagi untuk Kalimantan Timur,” pungkasnya.(*/RED)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x