
Cilegon, (Delik Asia) | Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon merespons gagasan mahasiswa KKN Kelompok 02 STTIKOM Insan Unggul bersama Journalists Action for Green Awareness (JAGA) untuk mendorong pengelolaan sampah di Lingkungan Cikebel Bawah, Kelurahan Grogol, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon.
Respons tersebut diwujudkan melalui keterlibatan langsung DLH dalam rangkaian kegiatan yang digelar pada Kamis (20/8/2026). Selain memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan persampahan, DLH juga menurunkan Tim AMPIBI beserta armada untuk mendukung kegiatan kerja bakti dan pembersihan lingkungan.
Kegiatan berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Sosialisasi pengelolaan sampah menjadi bagian awal kegiatan sebelum dilanjutkan dengan aksi bersih-bersih bersama masyarakat.
Perwakilan DLH Kota Cilegon, Nana, yang hadir mewakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cilegon, Sabri Mahyudin, menyampaikan bahwa pihaknya menerima dengan baik program yang diusulkan mahasiswa KKN STTIKOM Insan Unggul.


“Saya mewakili Pak Kadis DLH, beliau tidak bisa hadir karena sedang ada acara di Pandeglang. Kami pihak DLH Kota Cilegon sangat menerima program yang teman-teman KKN STTIKOM Insan Unggul dan teman-teman dari JAGA usulkan,” ujar Nana, pada Kamis (20/8/2026).
Kehadiran DLH dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa penanganan persoalan sampah membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, termasuk pemerintah, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat.
Dalam sesi sosialisasi, DLH Kota Cilegon memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pengelolaan persampahan di Kota Cilegon.
Materi yang disampaikan mencakup gambaran umum persampahan Kota Cilegon, kebijakan pengelolaan sampah, jenis-jenis sampah, pentingnya menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat, hingga dampak perilaku yang tidak memperhatikan kebersihan lingkungan.
Nana juga menjelaskan bahwa sampah tidak semata-mata harus dipandang sebagai sesuatu yang tidak memiliki nilai. Sebagian jenis sampah masih dapat dimanfaatkan kembali melalui proses pemilahan, penggunaan kembali, maupun daur ulang.
Masyarakat kemudian diperkenalkan dengan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sebagai salah satu pendekatan dalam pengelolaan sampah berkelanjutan.
Materi tersebut mencakup bagaimana sampah dapat dikurangi sejak dari sumbernya, digunakan kembali apabila masih memiliki manfaat, serta didaur ulang menjadi produk baru yang memiliki nilai guna.
DLH juga menjelaskan mengenai pelayanan persampahan di Kota Cilegon, kegiatan pengelolaan sampah, jumlah petugas dan armada, hingga konsep hierarki pengelolaan sampah berkelanjutan.
Edukasi tidak berhenti pada aspek kebersihan. Masyarakat juga diperkenalkan dengan potensi pemanfaatan sampah menjadi produk kreatif melalui kegiatan kerajinan daur ulang.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah pemanfaatan botol air mineral dan pipa paralon bekas menjadi bahan yang dapat digunakan kembali. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah, dari sekadar barang buangan menjadi material yang masih dapat dimanfaatkan apabila dikelola dengan tepat.
Selain memberikan edukasi, DLH Kota Cilegon turut memberikan dukungan langsung dalam kegiatan kerja bakti atau Gerakan Peduli Sungai Cilegon.
Tim AMPIBI diturunkan bersama armada untuk membantu proses pembersihan sampah di sungai yang ada di Lingkungan Cikebel Bawah. Keterlibatan personel dan armada DLH tersebut memperkuat pelaksanaan kegiatan yang sebelumnya digagas mahasiswa KKN Kelompok 02 STTIKOM Insan Unggul bersama masyarakat dan JAGA.
Dukungan tersebut juga memperlihatkan bahwa persoalan persampahan tidak cukup ditangani melalui kegiatan bersih-bersih sesaat. Edukasi, pelayanan persampahan, pengurangan sampah dari sumbernya, hingga pengangkutan dan pengelolaan menjadi rangkaian yang saling berkaitan.
Hal tersebut sejalan dengan arah kebijakan pengelolaan sampah Kota Cilegon yang telah memiliki Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah melalui Peraturan Wali Kota Cilegon Nomor 56 Tahun 2023.
Dalam beberapa programnya, DLH Kota Cilegon juga mendorong pengelolaan sampah berbasis sumber dan edukasi masyarakat. Salah satunya terlihat melalui program KOLASE yang menempatkan edukasi pemilahan sampah dan pembentukan kebiasaan sebagai bagian dari pengelolaan sampah berkelanjutan.

Dukungan DLH juga berlanjut pada pembahasan mengenai tindak lanjut program di Cikebel Bawah. Ibu Tanti dari UPT 3 Grogol, Dinas Lingkungan Hidup, meminta agar dilakukan pendataan warga serta titik pengambilan sampah rutin di wilayah Kelurahan Grogol, termasuk RT dan RW di Lingkungan Cikebel Bawah.
“Kami dari UPT 3 menerima untuk perihal tindak lanjut program ini terus berjalan. Kami meminta untuk merekap data dari warga dan titik pengambilan sampah rutin untuk Kelurahan Grogol, RW dan RT Lingkungan Cikebel Bawah,” kata Tanti.
Pendataan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar untuk melihat kebutuhan pelayanan persampahan di wilayah tersebut secara lebih terukur.
Sementara itu, kebutuhan fasilitas bak sampah di Cikebel Bawah juga telah didorong oleh mahasiswa KKN dan Tim dari JAGA kepada pihak terkait. Fasilitas tersebut belum tersedia pada saat kegiatan berlangsung dan masih memerlukan tindak lanjut.
Tokoh masyarakat Cikebel Bawah, H. Samsuri, menyampaikan bahwa persoalan sampah dan lahan menjadi salah satu persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ia bahkan menyatakan kesediaannya memberikan akses terhadap lahan miliknya untuk dimanfaatkan apabila diperlukan dalam mendukung pengelolaan sampah, dengan catatan pengelolaannya dilakukan secara baik dan tertata.
“Saya selaku tokoh masyarakat Lingkungan Cikebel Bawah menginformasikan bahwa memang permasalahan di Cikebel Bawah itu adalah sampah dan lahan. Oleh karena itu saya mengizinkan, silakan pakai dan kelola tanah yang punya saya di situ harus diatur dengan baik,” katanya.
President of JAGA, Hery Giriatma Singadipa Jayanegara, mengapresiasi respons DLH Kota Cilegon yang tidak hanya hadir dalam kegiatan, tetapi juga memberikan edukasi dan dukungan teknis melalui personel serta armada.
Menurutnya, keterlibatan pemerintah daerah menjadi penting agar gagasan yang lahir dari masyarakat dan mahasiswa dapat memiliki jalur tindak lanjut yang lebih jelas.
“Kami mengapresiasi respons DLH Kota Cilegon. Persoalan sampah tidak mungkin diselesaikan oleh mahasiswa atau masyarakat saja. Pemerintah memiliki peran penting dalam memastikan edukasi, pelayanan, fasilitas, dan sistem pengangkutan dapat berjalan secara berkelanjutan,” ujar Hery.
Ia menilai edukasi yang diberikan DLH juga menjadi bagian penting karena perubahan perilaku masyarakat merupakan fondasi utama dalam pengelolaan sampah.
“Kerja bakti memang penting, tetapi setelah sampah dibersihkan, pertanyaannya adalah bagaimana agar sampah tidak kembali menumpuk. Karena itu, edukasi mengenai 3R, pemilahan dari sumber, pendataan warga, titik pengambilan, sampai pelayanan pengangkutan harus berjalan bersama,” jelasnya.
Respons DLH tersebut diharapkan dapat menjadi awal penguatan pengelolaan sampah di Cikebel Bawah. Kolaborasi antara pemerintah, mahasiswa, komunitas, perangkat wilayah, dan masyarakat menjadi kunci agar persoalan sampah tidak hanya ditangani ketika sudah menumpuk, tetapi dapat dicegah dan dikelola sejak dari sumbernya.(*/RED)

Tidak ada komentar