x

Dari Aspal ke Digital: Kota Tangerang Genjot Infrastruktur 2026, Menyambung Akses Membangun Masa Depan

waktu baca 3 menit
Selasa, 7 Apr 2026 10:54 0 51 Redaksi

Kota Tangerang, (Delik Asia) | Pemerintah Kota Tangerang memacu pembangunan infrastruktur periode 2025–2026 dengan arah yang semakin terukur. Fokusnya tak hanya pada konektivitas jalan, tetapi juga pengendalian banjir serta pengembangan kawasan berbasis transportasi terpadu atau Transit Oriented Development (TOD).

Di sektor jalan, Pemkot tak sekadar membuka delapan ruas baru. Peningkatan kualitas konstruksi menjadi perhatian utama melalui penggunaan aspal hotmix berlapis hingga betonisasi pada titik dengan beban lalu lintas tinggi. Sejumlah ruas vital seperti Jalan M. Toha, Jalan Lio Baru, dan Jalan Imam Bonjol kini ditingkatkan kapasitasnya melalui pelebaran badan jalan hingga 2–4 meter, dilengkapi pembangunan saluran tepi guna memperkuat sistem drainase.

Langkah ini diperkuat dengan sentuhan teknologi. Pemkot mulai mengintegrasikan sistem manajemen lalu lintas berbasis Area Traffic Control System (ATCS) di simpang-simpang padat. Penambahan rambu serta marka thermoplastic juga digencarkan demi meningkatkan keselamatan pengguna jalan.

Tak berhenti di jalan utama, perbaikan jalan lingkungan dilakukan dengan pendekatan berbasis kawasan. Wilayah padat penduduk menjadi prioritas, dengan pekerjaan meliputi pengecoran jalan, penguatan lapisan pondasi, hingga pembenahan drainase lingkungan untuk mencegah kerusakan akibat genangan.

Di sisi lain, wajah transportasi masa depan Tangerang mulai dibentuk melalui pengembangan kawasan TOD Poris Plawad. Kawasan ini dirancang sebagai mixed-use development yang mengintegrasikan hunian vertikal, area komersial, serta konektivitas berbagai moda seperti KRL Commuter Line, angkutan kota, hingga layanan bus pengumpan. Fasilitas ramah pejalan kaki dan jalur sepeda juga disiapkan sebagai bagian dari upaya mendorong mobilitas rendah emisi. Akses menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta pun diperkuat melalui konektivitas jalan arteri dan transportasi publik.

Dalam upaya pengendalian banjir, Pemkot Tangerang mengusung pendekatan terpadu berbasis drainage masterplan. Pembangunan embung dan polder dilengkapi rumah pompa berkapasitas besar serta pintu air otomatis untuk mengatur debit aliran. Normalisasi sungai dan saluran sekunder dilakukan secara berkala melalui pengerukan sedimen, dengan target peningkatan kapasitas tampung air hingga 20–30 persen di titik rawan.

Sebagai langkah antisipatif, teknologi early warning system berbasis sensor ketinggian air mulai diuji coba di sejumlah wilayah. Sistem ini diharapkan mampu mempercepat respons terhadap potensi banjir.

Penguatan infrastruktur juga menyentuh sektor fasilitas publik. Ruang terbuka hijau dikembangkan dengan konsep kota berkelanjutan, menghadirkan vegetasi peneduh, area resapan, hingga fasilitas olahraga. Sementara itu, Griya Harmoni diarahkan menjadi pusat interaksi sosial berbasis komunitas dengan berbagai layanan pelatihan dan ruang kreatif.

Di bidang kesehatan, penyelesaian RSUD Panunggangan Barat menjadi salah satu proyek prioritas. Fasilitas ini diproyeksikan mampu menampung ratusan pasien, dilengkapi layanan gawat darurat 24 jam, ruang operasi modern, serta sistem rekam medis digital.

Tak kalah penting, transformasi digital terus dipacu melalui konsep smart city. Pemkot Tangerang mengintegrasikan data lintas perangkat daerah dalam satu command center, sementara aplikasi Tangerang LIVE terus dikembangkan dengan fitur layanan administrasi, pengaduan berbasis geo-tagging, hingga sistem pembayaran digital.

Secara keseluruhan, arah pembangunan ini menunjukkan upaya Pemkot Tangerang dalam menghadirkan infrastruktur yang tak hanya memperlancar mobilitas, tetapi juga meningkatkan kualitas layanan publik, memperkuat mitigasi bencana, serta mendorong terwujudnya kota yang cerdas dan berkelanjutan.(*/RED-FBY)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x