x

Pemberdayaan Nelayan Melalui Ekowisata di Medaksa Seberang

waktu baca 2 menit
Minggu, 19 Okt 2025 12:05 0 60 Redaksi

Delik Asia, (Merak, Cilegon) |  Suara debur ombak dan deru kapal di perairan Medaksa Seberang, Pulomerak, Kota Cilegon, menjadi latar sebuah ikhtiar perubahan. Minggu pagi, 19 Oktober, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Al-Khairiyah turun langsung ke tengah masyarakat pesisir, dalam kegiatan bertajuk Pemberdayaan Ekonomi Nelayan Berbasis Ekowisata dan Pengelolaan Lingkungan.

“Wawasan yang disampaikan sangat bermanfaat. Kami jadi tahu bahwa potensi laut tak hanya soal hasil tangkapan, tapi juga bisa dikembangkan lewat pariwisata berbasis ekologi,” kata A’im, mewakili Nelayan Medaksa Seberang, saat ditemui usai kegiatan.

Upaya penguatan ekonomi nelayan berbasis lingkungan hidup terus didorong melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat pesisir. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Al-Khairiyah melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat di Kampung Medaksa Seberang, Pulomerak, Kota Cilegon, pada Minggu (19/10).

Mengusung tema Pemberdayaan Ekonomi Nelayan Berbasis Ekowisata dan Pengelolaan Lingkungan, kegiatan ini bertujuan mendorong pemahaman baru bagi komunitas nelayan dalam melihat potensi ekonomi kelautan secara lebih luas dan berkelanjutan.

“Kami sangat terbantu dengan pengetahuan yang dibagikan. Ternyata laut bukan hanya tempat mencari ikan, tetapi juga bisa menjadi sumber penghasilan lain jika dikelola secara bijak, misalnya melalui wisata alam,” ujar Edi Grace, Ketua Nelayan Medaksa Seberang.

Tambah A’im, sebagian besar nelayan di daerah laut merak masih bertumpu pada hasil tangkapan harian. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk memahami bahwa pelestarian lingkungan laut merupakan investasi jangka panjang, tidak hanya bagi ekosistem, tetapi juga bagi kesejahteraan ekonomi mereka sendiri.

Dalam kegiatan tersebut, tim dari Universitas Al-Khairiyah memberikan pelatihan dan diskusi tentang konsep ekowisata, pengelolaan sumber daya berbasis komunitas, serta strategi pemberdayaan ekonomi yang ramah lingkungan. Pendekatan partisipatif menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi juga aktor utama dalam pengembangan kawasan.

“Kami berharap nelayan tidak hanya menjadi pengguna laut, tetapi juga penjaga dan pengelola wilayahnya. Dengan begitu, mereka bisa mendapat nilai tambah secara ekonomi, sekaligus melestarikan alam,” ujar salah satu dosen pendamping dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Selain pelatihan, kegiatan ini juga menjadi momentum memperkuat sinergi antara akademisi, pelaku lokal, dan pemerintah. Harapannya, Medaksa Seberang dapat menjadi percontohan bagi desa-desa pesisir lainnya dalam membangun ekonomi berbasis kearifan lokal dan keberlanjutan.

Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap potensi wisata bahari dan pentingnya menjaga lingkungan, kawasan pesisir mulai dipandang sebagai ruang hidup yang menawarkan peluang ekonomi yang beragam. Kuncinya terletak pada pengelolaan yang berkelanjutan dan inklusif.[Febi/Red]

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x