
Foto: Corsec PT ASDP Indonesia Ferry Surabaya, (Delik Asia) | Di tengah laju deras transformasi digital yang kian menuntut kecepatan adaptasi, dunia pendidikan tak lagi cukup bertumpu pada ruang kelas konvensional. Ia ditantang untuk berbenah—membangun ekosistem pembelajaran yang lentur, kolaboratif, sekaligus inklusif. Dalam lanskap itulah PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menegaskan perannya, bukan sekadar sebagai operator transportasi, melainkan sebagai simpul tanggung jawab sosial yang turut merawat masa depan pendidikan.

Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), perusahaan pelat merah ini menyalurkan dukungan konkret bagi penguatan infrastruktur pendidikan di Jawa Timur. Pada Kamis, 16 April, bantuan digelontorkan ke sejumlah institusi: Universitas Sunan Gresik, Asrama Santri Yayasan Hidayatul Ulum Pamekasan, Yayasan Al Ihsan Bangkes, hingga Yayasan Pendidikan Islam Al Hikmah. Intervensi ini menjadi bagian dari ikhtiar berkelanjutan untuk menumbuhkan kualitas sumber daya manusia yang kian relevan dengan tuntutan zaman.
Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, memandang pendidikan sebagai fondasi strategis yang tak tergantikan dalam membentuk generasi unggul. Dalam pandangannya, investasi pada sektor ini bukan sekadar kewajiban moral, melainkan langkah jangka panjang yang menentukan arah daya saing bangsa. Melalui TJSL, kata dia, ASDP berupaya menghadirkan kontribusi yang tidak berhenti pada simbol, tetapi menjelma dalam manfaat nyata yang berkelanjutan.
Salah satu artikulasi konkret dari komitmen itu hadir di Universitas Sunan Gresik, melalui pengembangan Smart Classroom dan Digital Classroom. Ruang-ruang belajar ini dirancang sebagai simpul interaksi modern—terintegrasi dengan perangkat interaktif, sistem konferensi digital, jaringan internet berkecepatan tinggi, serta perangkat lunak pendukung. Tak berhenti pada penyediaan fasilitas, ASDP juga menyertakan pelatihan bagi pengajar dan operator, memastikan teknologi tidak sekadar hadir, tetapi benar-benar dimaknai dalam praktik pembelajaran.

Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, menambahkan bahwa kontribusi perusahaan juga menjangkau aspek yang lebih mendasar: rehabilitasi ruang kelas di Yayasan Pendidikan Islam Al Hikmah dan Yayasan Al Ihsan Bangkes, serta pembangunan asrama putri di Yayasan Hidayatul Ulum Pamekasan. Upaya ini diarahkan untuk menciptakan ruang belajar yang layak—tenang, aman, dan kondusif—bagi para peserta didik.
Langkah-langkah tersebut, menurut Windy, sejalan dengan komitmen perusahaan dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya poin keempat tentang pendidikan berkualitas. Di titik ini, pembangunan infrastruktur pendidikan tak lagi dipandang sebagai proyek fisik semata, melainkan sebagai investasi sosial yang membuka ruang tumbuh bagi generasi muda.
Dengan demikian, ASDP menempatkan dirinya dalam spektrum yang lebih luas: bukan hanya penggerak konektivitas antarpulau, tetapi juga mitra pembangunan yang menautkan kepentingan industri dengan kemajuan sosial. Di tengah perubahan yang serba cepat, inisiatif semacam ini menjadi pengingat bahwa masa depan tak hanya dibangun oleh teknologi, melainkan oleh manusia yang dipersiapkan dengan baik untuk mengelolanya.(*/Red)

Tidak ada komentar